Jumat, 06 April 2012

KERIKIL BUAH KARYA PARTO


Seri Novel 'Parto Da Gama, Kisah Santri Desa Menaklukan Dunia'

Hampir satu tahun Parto belajar di pesantren Darul Islam. Dia tinggal di Asrama Banyuwangi. Disebut dengan Banyuwangi karena asrama itu khusus untuk santri yang berasal dari Banyuwangi. Asrama-asrama tersebut sebenarnya punya nama asli dari bahasa Araba seperti Asrama Al Falah, Al Ghazali dan lain sebagainya. Namun santri lebih suka menamakan asrama-asrama tersebut berdasarkan asal usul santri yang tinggal di asarama tersebut. Ada Asrama Jember untuk santri dari daerah sekitar Jember, Asrama Jawa Tengah, Bali, Sumatera, Sulawesi dan beberapa daerah lain di Indonesia.

Parto tinggal di kamar berukuran 4x3 meter. Namun bukan untuk dirinya sendiri melainkan dia harus berbagi dengan delapan santri putra lainnya yang berasal dari berbagai daerah di Banyuwangi. Di kamar inilah kemudian Parto mengenal Muhammad Rois, seorang santri anak orang kaya dari Desa Mangir di sebelah barat Banyuwangi. Dia akrab dengan Rois karena teman sekelas di SMP Pesantren. Rois adalah santri yang cerdas dan meskipun kaya tapi dia tidak pernah hidup berfoya-foya. Parto tahu bahwa Rois anak orang kayak arena setiap kali menjenguk Rois, orang tuanya selalu membawa mobil sedan mewah dan membawa berbagai macam makanan. Rois kemudian membagi-bagikan  makanan tersebut kepada teman sekamarnya.

Tidak ada ruang untuk menyimpan barang karena setiap kamar hanya mempunyai lemari untuk menyimpan barang-barang santri seperti baju, kitab atau uang. Bentuk lemari lebih mirip locker untuk menyimpan dokumen karena terdiri dari kotak-kotak kecil. Tidak ada fasilitas lainnya di kamar tersebut. Begitu juga kamar-kamar lainnya. Oleh karena itu ada beberapa santri yang membawa meja kecil untuk mengaji. Kasur menjadi barang haram, bukan karena santri tidak boleh membawa melainkan itu bukan tradisi pesantren.

Dunia pesantren memang unik. Ada beberapa tradisi yang tidak boleh dilanggar oleh santri jika mereka ingin berhasil. Pertama, mereka tidak boleh pulang kerumah sebelum 40 hari sejak pertama kali mereka tinggal di pesantren. Kemudian kepulangan yang kedua adalah setahun sekali menjelang bulan Ramadhan sampai sehabis hari raya sebagai libur panjang pesantren. Namun santri yang merangkap sekolah umum seperti Parto dan Rois tidak bisa pulang karena libur sekolah berbeda dengan libur pesantren. Jadi mereka berdua sering tidak pulang pada liburan tersebut.

Tradisi yang kedua adalah tidak boleh malas dan tertarik dengan lawan karena bisa menumpulkan otak sehingga susah memahami pelajaran. Selain itu, santri juga dihimbau untuk tidak hidup mewah selama di pesantren. Mereka harus meniru kebiasaan Rasulullah. Oleh karena itu santri tidur di lantai beralaskan sarung atau sajadah. Ada beberapa santri yang membawa selimut namun pada umumnya santri lebih suka tidur memakai sarung beralaskan sajadah tanpa bantal.

Parto sering tidak kebagian tempat tidur dikamar sehingga dia sering tidur di teras masjid. Dengan kondisi kamar yang penuh sesak oleh santri, semua tempat di pesantren yang ada tulisan ‘sandal harap dilepas’ menjadi tempat tidur santri. Mereka bebas tidur dimana saja. Ada yang tidur didekat tempat wudhu atau koridor yang menghubungkan antar asrama atau masjid. Pemandangan malam hari di pesantren menjadi mengerikan karena santri tidur dimana-mana seperti mayat tertutup sarung, bergelimpangan di setiap sudut lantai bangunan pesantren dengan bunyi dengkuran yang beraneka ragam.

Maklum, Pesantren Darul Islam mempunyai sekitar 2000 santri yang terdiri dari 500 santri putri dan 1500 santri putra. Kondisi santri putri lebih nyaman karena jumlahnya tidak sebanyak santri putra. Di asrama putra, kamar yang tersedia tidak mampu menampung semua santri untuk tidur bersamaan. Jika kamar hanya diisi satu atau dua santri, maka pihak pesantren memerlukan lahan yang luas dan uang yang banyak untuk membangun asrama santri. Padahal Darul Islam adalah pesantren tradisional yang menarik iuran bulanan sangat murah kepada santri, yakni 10.000 rupiah. Meskipun murah, ada beberapa santri yang tidak membayar secara rutin karena alasan ekonomi.

Biasanya santri yang belum melunasi iuran bulanan akan dipindahkan ke sebuah asrama yang khusus menampung santri yang belum membayar iuran. Didepan asrama itu ada tulisan gudang santri. Artinya, siapa saja yang tinggal disitu berarti belum membayar iuran. Pesantren sengaja tidak mengeluarkan santri yang tidak membayar iuran melainkan hanya menegur mereka dengan menyediakan bangunan khusus.

Parto beberapa kali pernah menghuni gudang santri karena uang kirimannya telat. Pada waktu itu kakeknya sakit sehingga ibunya harus membelah bambu tiang dapur, mengambil uang tabungan untuk biaya berobat sang kakek. Meskipun pernah beberapa kali menginap di hotel prodeo pesantren, Parto begitu menikmati kehidupan pesantren terbesar di Kabupaten Banyuwangi tersebut. Baginya, kehidupan pesantren tidak jauh berbeda dengan kehidupannya di desa. Yang membedakan hanyalah para petugas pesantren yang umumnya santri senior. Mereka tidak segan-segan menghukum santri yang melanggar aturan pesantren.

Santri wajib shalat berjamaah, mengaji Al Quran sehabis maghrib dan sekolah diniyah untuk mengkaji kitab-kitab klasik tentang Islam. Di dunia pesantren, kitab klasik tersebut biasanya disebut dengan kitab kuning karena kebanyakan warna sampulnya berwarna kuning. Santri seperti Parto dan Rois tentu mempunyai kewajiban lebih berat. Mereka harus sekolah umum di pagi hari, kemudian sekolah agama/diniyah sore hari dan malamnya masih harus mengaji Al Quran dan kitab klasik. Selain itu, mereka juga akan dibangunkan sekitar jam 3 pagi untuk shalat tahajut. Rutinitas pesantren itulah yang mengingatkan Parto sama Laila, anaknya Kyai Harun yang tidak pernah bermain dengan anak-anak kampung karena sibuk belajar.  

Ah…dulu aku mengolok-olok Laila, kini aku masuk dalam dunianya. Gumam Parto dalam hati. Namun kini setidak-tidaknya dia bisa bersaing dengan Laila. Sayangnya semenjak di pesantren, Parto tidak tahu dimana Laila sekarang berada. Pesantren telah menutup semua informasi dunia luar. Namun Parto juga tidak pernah ingin mencari tahu dimana Laila saat ini. Baginya yang paling penting adalah menikmati kehidupan pesantren seperti dia dulu menikmati alam desa.

Yang agak berat bagi Parto Cuma bangun tengah malam untuk shalat tahajut. Setiap santri akan dibangunkan oleh petugas jaga malam untuk shalat tahajut. Para petugas tersebut biasanya membawa tongkat atau gayung berisi air untuk dicipratkan ke muka santri agar mereka cepat bangun. Bahkan ada beberapa petugas yang membawa tongkat khusus berupa kayu yang ujungnya dibuat melingkar mirip teken. Tongkat tersebut digunakan untuk membangunkan santri yang malas dengan cara menarik kaki, tangan atau lehernya keatas. Parto pernah ditarik gara-gara dia tidak cepat bangun.

Siapa saja yang melanggar kewajiban diatas, maka akan dihukum. Hukuman yang paling ringan adalah membaca Al Quran sebanyak satu juz di kantor petugas pesantren. Pelanggaran yang tergolong agak berat adalah pelanggaran yang dilakukan berulang-ulang. Biasanya santri tersebut akan disuruh untuk membersihkan tiga blok kamar mandi. Masing-masing blok terdiri dari sepuluh kamar mandi.

Santri juga tidak boleh keluar dari areal pesantren kecuali hari Jumat sebagai hari libur pesantren. Setiap Jumat biasanya Parto keluar untuk sekedar jalan-jalan di tepian sungai yang berada didekat pesantren. Untuk keperluan sehari-hari, dia bisa membelinya di koperasi pesantren. Namun koperasi tidak menyediakan rokok karena santri tidak diperbolehkan merokok. Selain itu, radio, televisi dan semua jenis hiburan lainnya menjadi barang haram yang tidak boleh dikonsumsi oleh santri. Selama di pesantren santri terisolasi dari dunia luar. Hal ini dimaksudkan agar santri bisa berkonsentrasi dalam menuntut ilmu. Santri hanya bisa mengetahui dunia luar dari koran yang disediakan oleh pesantren. Biasanya koran tersebut ditempel didepan masjid.

Parto dan santri lain juga harus masak sendiri di dapur umum yang disediakan oleh pesantren. Mereka tidak boleh memakai kompor minyak tanah untuk memasak agar bisa menghemat biaya. Umumnya para santri akan membentuk kelompok-kelompok masak yang terdiri dari santri sekamar. Parto bersama delapan santri lain sekamarnya membentuk satu kelompok masak. Setiap kelompok biasanya membayar iuran bulanan yang diserahkan kepada ketua kelompok masak untuk membeli kayu bakar, sayuran dan bumbu-bumbu masak. Setiap santri, termasuk Parto umumnya sudah mempunyai beras hasil dikiriman orang tua mereka yang menjenguk santri setiap bulannya.

Untuk petugas masak dilakukan secara bergiliran, yakni empat orang santri sekali masak. Jadi untuk masak pagi empat orang dan masak sore empat orang. Tidak ada makan siang karena makan tiga kali sehari termasuk dalam kategori hidup berfoya-foya dan dihindari oleh sebagian besar santri. Jadi ketika siang nyaris tidak ada santri yang memasak di dapur umum. Jadi dapur umum seperti pasar di pagi dan sore hari namun sangat lengang ketika siang karena santri lebih memilih untuk tidur siang atau mengaji Al Quran di masjid ketika merasa lapar.

Tradisi makan dengan piring dan sendok juga tidak berlaku di pesantren. Sendoknya santri adalah tangan mereka sedangkan sebagai ganti piring adalah nampan besar untuk makan bersama. Satu kelompok masak biasanya membeli nampan besar yang cukup untuk makan lima sampai sepuluh orang. Dapur umum juga tidak menyediakan meja makan. Jadi santri makan diatas nampan yang diletakan diatas tanah. Nasi dan sayur biasanya dihidangkan ketika masih sangat panas. Tidak ada waktu untuk menunggu dingin karena alat masak dan tungku nasinya sudah ditunggu oleh santri lain. Jika nasi dan sayur sudah siap, salah satu santri yang mendapat giliran memasak akan memanggil santri lainnya.

Ketika semua anggota masak sudah duduk berjongkok mengelilingi nampan dan nasi dan sayur sudah campur, artinya mereka sudah siap untuk balapan. Santri yang paling tahan panas tentu bisa kenyang sedangkan yang tidak tahan panas akan kebagian sedikit nasi dan lauk. Tradisi makan ala pesantren ini seperti karapan sapi. Siapa yang paling cepat maka dialah pemenangnya. Santri yang baru masuk pesantren biasanya tidak mampu menandingi kecepatan makan santri senior di kelompoknya.

Parto pernah merasa jengkel karena pada awal mula kedatangannya di pesantren selalu tidak bisa kenyang karena kalah adu cepat makan. Maka dia sering mengajak Rois untuk masak di malam hari sehabis isya untuk mengganjal perut yang terus bernyanyi. Rois kalah karena dia tidak mau tergesa-gesa. Toh jika masih lapar dia punya uang untuk beli jajan di koperasi.

Namun ternyata masak malam hari juga tidak aman dari gangguan para santri lain yang ingin makan gratis. Biasanya santri-santri tersebut akan gabung makan dan Parto bersama Rois tidak kuasa menolaknya. Jika menolak biasanya akan diejek sebagai orang pelit yang dibenci Rasulullah.

Ada satu santri yang menjadi pelanggan tetapnya Parto dan Rois ketika masak malam. Dia adalah Hadi, santri tetangga kamar yang sangat terkenal suka minta jatah makan gratis. Parto pun menjadi jengkel dan ingin memberi pelajaran kepada Hadi. Maka dia punya ide gila agar Hadi menjadi jera. Dia bersama Rois memilih krikil-krikil kecil yang banyak bertebaran di sekitar dapur. Lalu mencucinya sampai bersih. Ketika selesai masak dan nasi sudah berada diatas nampan, dia memasukan krikil-krikil kecil tersebut kedalam nasi. Dia sengaja memasukan kerikil hanya di beberapa sisi nampan aja jadi dia nanti tidak ikut memakan kerikil tersebut. Lalu kemudian dia memilih tempat yang agak gelap agar ketika Hadi datang dan gabung makan tidak bisa melihat kerikil-kerikil tersebut.

Hadi…..ayo makan, biasanya kamu kan jadi pelanggan tetap, ga lengkap nih makan tanpa kamu!! Parto memanggil Hadi yang sedang tidur-tiduran di teras masjid sambil membaca kitab kecil. Hadi pun sangat senang dipanggil Parto.

Wah……tidak biasanya nih kamu mengajak aku makan. Semoga Allah memberi rejeki dan ilmu yang tak terkira jumlahnya kepada saudaraku ini! Kata Hadi sambil menepuk-nepuk pundaknya Parto.

Amien..jawab Parto singkat. Dia lekas bergegas mengajak Hadi ke tempat yang dia sebut sebagai pengadilan terakhir Hadi. Disitu sudah menunggu Rois yang sedang mencicipi masakan diatas nampan.

Ayo wes sikaaatt!! Ajak Parto kepada Rois dan Hadi. Dan ketiga santri itupun kemudian dengan lahapnya menyantap nasi beserta sayur tumis kangkung ala Parto. Selang beberapa menit kemudian terdengar suara kruukkkk….! Parto bisa mendengar dengan jelas bahwa suara itu berasal dari mulutnya Hadi. Artinya kerikil tersebut telah masuk kedalam mulutnya Hadi. Tapi Hadi hanya diam saja seolah-olah dia hanya makan nasi.

Duh!….wah aku makan kerikil, sialan! Parto berpura-pura makan kerikil agar Hadi tidak curiga bahwa dia sedang dikerjai malam itu.

Aku juga makan kerikil nih….Rois menyahut Parto tapi tidak memperlihatkan kerikilnya. Hadi yang menyadari Parto dan Hadi makan kerikil tetap santai menghabiskan nasi yang ada dihadapannya meskipun berkali-kali terdengar suara kruk…kruk…dari dalam mulutnya. Mungkin Hadi berfikir berasnya tidak dibersihkan terlebih dahulu sehingga masih banyak kerikil yang masuk ke mulutnya. Hadi tetap tidak sadar dan tidak mencerikan bahwa dia telah makan banyak kerikil. Hadi tidak sadar bahwa malam itu dia telah makan 15 kerikil hasil karya Parto.



2 komentar:

  1. Mas, Kok gak pernah update tulisan lagi ya? Padahal pengen baca2. Tulisan Traveling di UK, Info2 yang ada disana juga gak apa2. Siapa tahu bermanfaat bagi banyak orang. Hehe.

    BalasHapus
  2. Halo Malik...ini msh sangat sibuk sama disertasi! nanti kl udah agak senggang mulai nulis lagi!! thanks. km dah lulus kah?

    BalasHapus