Selasa, 03 April 2012

PARTO LARI TELANJANG


Seri 'Novel Parto Da Gama, Kisah Santri Desa Menaklukan Dunia'

Lima tahun setelah kelahiran anaknya, Jamilah dan Salam kini tinggal dirumah mereka sendiri yang letaknya bersebelahan dengan rumah orang tuanya. Salah satu ciri khas masyarakat di Desa Watu Jati adalah adanya kelompok-kelompok rumah yang berjajar saling berhadap-hadapan dengan satu mushalla dibagian tengahnya. Satu kelompok biasanya terdiri dari keluarga yang berdomisili di desa tersebut secara turun temurun. Besar kecilnya keluarga bisa dilihat dari banyaknya rumah yang ada di masing-masing kelompok.

Rumah Jamilah adalah rumah yang ketiga di jajaran kelompok rumahnya Dulkarim. Artinya, ada satu rumah lagi yang ada di kelompok tersebut, yakni rumah milik Aliyah, kakak perempuan Jamilah yang telah lebih dulu membangun rumah disamping kanan dari rumah Dulkarim. Aliyah tinggal bersama Kasan suaminya dan dua anak mereka. Anak sulungnya bernama Ilyas yang sudah sekolah kelas 5 Sekolah Dasar yang berada di desa dan satunya lagi anak perempuan bernama Alfiyah yang masih duduk di kelas 3 SD.

Jamilah dan Salam berhasil membangun rumah dari hasil jerih payah mereka membantu orang tua dan kadangkala menjadi buruh tani. Umumnya upahnya berupa gabah atau jenis panenan lainnya yang kemudian langsung dijual kepada tengkulak. Uang hasil menjual gabah tidak disimpan di bank karena memang tidak ada bank di sekitar Desa Watu Jati. Jamilah, seperti kebanyakan warga desa memang tidak mau menyimpang uang mereka di bank karena selain jauh, mereka juga meyakini bahwa bunga yang ditawarkan bank itu hukumnya haram.

Biasanya warga menyimpan uang di tiang-tiang rumah yang terbuat dari bambu. Caranya dengan melobangi bambu tepat dibawah ruas untuk memasukan uang kedalam bambu tersebut. Uang yang dimasukan terlebih dahulu dibungkus plastik agar tidak dimakan hewan pengerat yang biasanya memakan bambu kering. Pengambilan uang didasarkan pada kebutuhan mendesak dan jika sudah diambil, bambu tersebut tidak bisa digunakan untuk menyimpan uang lagi karena pengambilan uang adalah dengan cara melobangi ruas bambu bagian. Jika tidak ada keperluan, biasanya uang diambil setelah ruas bambu tersebut penuh. Atau mencari ruas bambu lain untuk dijadikan tabungan. Jadi kegemaran menabung masyarakat Desa Watu Jati bisa diamati dari berapa banyak lobang yang ada ditiang-tiang rumah mereka.

Jamilah selalu rajin menabung untuk masa depan Parto kecil. Dia bercita-cita mengirim Parto ke pesantren agar kelak dia bisa menjadi seorang kyai. Selain itu, biaya di pesantren sangat murah dan terjangkau oleh keluarga Jamilah yang terbilang miskin. 

Namun Parto kecil tidak pernah tidur dirumah orang tuanya. Dia lebih memilih tinggal bersama kakek dan neneknya. Parto tidak suka tidur bersama orang tuanya karena setiap malam lampu pijar dimatikan dengan alasan untuk menghemat minyak tanah. Parto sering ketakutan dan akhirnya sang kakek, Dulkarim meminta kepada Jamilah agar Parto diijinkan untuk tidur dirumahnya. Oleh karena itu semenjak ada Parto, rumah Dulkarim tidak pernah gelap gulita dimalam karena karena Dulkarim selalu menyalakan lampu pijar dirumah agar Parto tidak ketakutan. Karena kebiasaan itulah Parto lebih sering menghabiskan waktunya dirumah Dulkarim.

Parto beruntung punya kakek, Dulkarim yang sangat menyayanginya. Kemanapun dia pergi selalu teringat sama Parto dan seringkali mengajak Parto ke sawah untuk menemaninya bekerja atau ke sungai ketika mandi. Maklum, Parto adalah cucunya yang paling kecil. Anak-anak dari Aliyah sudah beranjak dewasa dan sering bermain sendiri.

Selain bekerja di sawah, Dulkarim juga biasa pergi ke kebun tebu milik pemerintah yang letaknya sekitar lima kilo meter dari desa. Dia pergi ke perkebunan tersebut setiap hari Sabtu untuk mencari daun tebu kering dengan berjalan kaki melintasi persawahan. Daun tebu tersebut untuk dibuat atap rumah dan dijual kepada orang yang membutuhkan. Warga desa menyebutnya dengan atap welit karena proses pembuatannya dengan cara dililit atau dijepit dengan bambu.

Setiap pulang Dulkarim selalu menyelipkan dua batang tebu disela-sela ikatan daun tebu kering tersebut. Kemudian dia membawa pulang dengan cara dipikul memakai bambu. Satu ikat di depan dan satunya lagi di belakang. Jadi ada satu batang tebu dimasing-masing ikatan tersebut. Tebu itu untuk oleh-oleh cucu kesayangannya, Parto. Jadi ketika Parto melihat ada ikatan daun tebu kering dibelakang rumah, dia sudah menduga bahwa didalamnya pasti terselip tebu yang dibawa oleh kakeknya.

Jika pergi kesawah, Dulkarim biasanya membawa keranjang yang dipikul untuk membawa hasil pertanian pulang. Tak ketinggalan Parto juga ikut kakeknya tersebut untuk bermain disawah. Karena letak sawah yang agak jauh dari rumah, biasanya Dulkarim memasukan Parto kedalam keranjang. Satu keranjang berisi Parto dan keranjang lainnya diisi dengan bahan makanan untuk dimakan disawah dan ditambahi batu agar bobotnya sama dengan Parto untuk menjaga keseimbangan.

Menjelang senja sehabis pulang dari sawah, Dulkarim sering mengajak Parto untuk mandi bersama-sama di sungai. Biasanya dia memanggul Parto sembari berenang untuk mencari kepiting sungai. Keluarga besar Dulkarim dan juga kebanyakan masyarakat Desa Watu Jati memang mengandalkan sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai dari mencuci, mandi dan buang air besar. Aliran sungai yang jernih tak menarik minat para penduduk untuk membangun kamar mandi. Jika pun ada sumur, biasanya untuk keperluan memasak dan air minum.

Suatu malam sehabis maghrib, Ilyas, kakak sepupu Parto mengajak Parto untuk buang air besar di sungai yang berada di samping rumahnya. Biasanya anak kecil jarang buang air besar pada malam hari. Bukan karena tidak ingin namun lebih karena rasa takut. Takut karena dimarahi orang tua atau takut dengan hantu. Namun kali ini Ilyas tak kuasa menahan mules perutnya namun tidak berani meminta orang tuanya untuk mengantarkannya ke sungai. Jadi dia mendatangi Parto dan memintanya dengan hati-hati agar tidak ada yang tahu bahwa malam itu mereka pergi ke sungai.

To…ayo ke sungai. Aku mau buang air besar, sudah ga tahan…! Pinta Ilyas sambil memegangi perutnya. Dia juga sudah membawa lampu senter, yakni lampu yang menggunakan tenaga baterai. Biasanya lampu ini dipakai oleh bapaknya untuk ronda desa atau ketika melakukan perjalanan jauh di malam hari.

'Ayo kang, aku juga mau pipis!' Parto menimpali.
Kemudian mereka berdua berangkat ke sungai dengan tergesa-gesa. Ilyas ingin cepat sampai di sungai yang memisahkan Desa Watu Jati dan persawahan. Jadi ada bangunan jembatan yang terbuat dari bambu untuk menghubungkan desa dengan persawahan. Orang-orang desa menyebut jembatan tersebut dengan ‘kretek’.  Disebut dengan kretek karena jika ada orang jalan diatasnya, akan ada bunyi kretek…kretek.

Ilyas mengajak Parto untuk turun ke sungai dibawah jembatan. Ilyas menyalakan lampu senter untuk mencari jalan dan menemukan tempat yang tepat untuk buang hajat. Tanpa pikir panjang mereka langsung membuka celana dan duduk diatas batu yang banyak terdapat di sungai. Parto yang agak ketakutan memilih untuk duduk diatas batu disamping Ilyas dan meminta Ilyas untuk terus menghidupkan lampu senter agar suasana tidak gelap gulita.

Selang beberapa detik, Parto dan Ilyas mendengar suara jembatan berbunyi.
Kretek….kretekkk…kreetteeeekkk…. suaranya begitu sangat jelas sekali terdengar oleh Parto dan Ilyas karena mereka memang duduk dibawah jembatan tersebut.

‘Kang, siapa itu yang berjalan diatas jembatan, coba kamu arahkan lampu senter itu kesana!’ pinta Parto sambil memegangi tangan Ilyas.

Sebelum Parto selesai berbicara, Ilyas sudah terlebih dahulu mengarahkan lampu senternya keatas jembatan karena penasaran siapa sebenarnya yang sedang berjalan diatas jembatan tersebut. Lalu mereka sangat kaget karena setelah lampu senter diarahkan tepat diatas jembatan tersebut Parto dan Ilyas tidak melihat seorangpun yang berjalan diatas jembatan tersebut.

‘Genderuwoooooo…………’ Parto dan Ilyas berteriak bersamaan sembari berlari keluar dari sungai tanpa memperhatikan lagi apakah mereka sudah memakai celana atau belum. Genderuwo adalah hantu yang digambarkan sebagai makhluk yang sangat besar dan menyeramkan.

‘Kakeeeekkkkk’……’bapaakkk’….’kakeeekkkk’…..’ibuu’…………..teriak mereka bersahut-sahutan sambil terus berlari menuju rumah dengan celana yang masih dibawah lutut. Jadi mereka berlari sekuat tenaga tetapi tidak bisa cepat karena celana mereka belum dinaikan sehingga pelarian mereka menuju rumah terasa sangat lama.

Orang tua Parto beserta keluarga besar Dulkarim yang masih berada di mushalla hanya tertawa melihat Parto dan Ilyas yang lari terbirit-birit terlebih lagi melihat dua anak kecil tersebut berlari dengan telanjang. Keluarga Dulkarim tahu bahwa dua anak kecil tersebut baru saja dari sungai namun mereka tidak mengetahui bahwa Parto dan Ilyas baru saja melihat hantu yang sangat menakutkan. Lalu mereka menceritakan tentang hantu tersebut namun Dulkarim malah tertawa terbahak-bahak. 

Memang biasanya orang dewasa hanya menanggapi cerita anak kecil dengan gurauan, apalagi tentang hantu. Jika tidak begitu, mereka justru malah menakut-nakuti anak kecil agar tidak keluyuran malam hari agar tidak digondol sama hantu. Oleh karena itu sangat jarang sekali anak kecil minta diantar ke sungai oleh orang tuanya dimalam hari dengan alasan ingin buang air. Lebih baik mereka menunggu sampai subuh dan baru buang air besar setelah matahari terbit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar