Rabu, 04 April 2012

ALAMKU SURGAKU


Seri Novel 'Parto Da Gama, Kisah Santri Desa Menaklukan Dunia'

Hidup di desa dengan kondisi alam yang asri, jauh dari kebisingan kota merupakan anugerah dari Tuhan yang harus dinikmati oleh siapapun. Mungkin itulah yang ada di otaknya Parto. Dia merasa bahwa masa kecilnya tidak lengkap jika belum bersentuhan dengan alam. Baginya dan juga sebagian besar anak-anak di Desa Watu Jati, sawah bukan hanya tempat bekerja orang dewasa melainkan juga tempat bermain anak-anak setelah mereka pulang dari sekolah. Sungai tidak hanya dijadikan tempat mandi dan menyuci melainkan juga menguji nyali anak-anak desa untuk berenang atau bermain petak umpet.

Sekolah bagi Parto hanyalah pelengkap hidup. Maka hidupnya sudah sangat lengkap jika sudah bisa membaca dan menulis. Baginya hidup yang sesungguhnya bukanlah di bangku sekolah melainkan di alam bebas. Karena disitulah dia merasa bebas berkreasi tanpa harus takut oleh gertakan guru atau dimarahi orang tua. Oleh karena itu banyak anak Desa Watu Jati yang selalu kreatif membuat permainan mereka sendiri. Tidak ada jenis mainan yang dibeli di toko karena alam bagaikan surga yang menyediakan semua jenis permainan.

Bambu, kulit kelapa atau Jeruk Bali bisa disulap jadi mobil. Pelepah pisang atau pohon singkong bisa diubah menjadi senapan. Jika ingin lebih seru, mereka menggunakan peluru dari  buah-buahan yang banyak terdapat di desa.  Daun nangka bisa dijadikan mahkota atau tangkai daun singkong dijadikan wayang. Seluruh wilayah desa juga bisa diubah menjadi arena berbagai jenis permainan ketangkasan dan olah kecerdasan seperti perang-perangan. Semuanya bisa didapatkan secara gratis.

Bahkan jika ingin menikmati hiburan seperti layar tancap pun Parto tidak perlu membayar. Layar tancap biasanya masuk Desa Watu Jati di musim panas dibawa oleh penjual jamu untuk menarik minat warga desa. Jadi penjual jamu bisa mendatangkan banyak warga karena ada tontonan gratis. Jadi meskipun banyak warga yang datang, namun sedikit dari mereka yang membeli jamu. Layar tancap versi penjual jamu tersebut selalu rutin datang ke desa setiap tahun. Bahkan satu tahun bisa dua sampai tiga kali. Parto dan teman-temannya biasanya menonton layar tancap sehabis mengaji di masjid. Sepulang dari nonton dia tidak pulang ke rumah melainkan tidur di masjid bersama teman-temannya.

Hiburan gratis lainnya adalah video, yakni pemutaran film yang menggunakan beberapa telivisi yang terhubung dengan mesin pemutar film. Tontonan video biasanya diadakan oleh keluarga kaya yang ada di desa ketika mereka sedang mempunyai hajatan pernikahan atau sunatan. Video diputar semalam suntuk mulai sehabis isya sampai menjelang matahari terbit. Televisi-telivisi tersebut biasanya dihadapkan ke penonton, tamu undangan dan keluarga yang mempunyai hajatan. Jadi penonton dan tamu undangan tidak bercampur jadi satu.

Parto dan anak-anak desa lainnya selalu membawa uang dan pisau kecil ketika menonton video. Uang digunakan untuk membeli jajan sedangkan pisau digunakan mencari daun pisang untuk dibuat alas tidur ketika mereka mengantuk. Namun biasanya Parto sudah persiapan agar tidak mengantuk ketika menonton video. Dia selalu tidur di siang hari sebelum malamnya menonton video. Jadi kakeknya biasanya sudah menduga jika Parto tidur siang, berarti nanti malam pasti ada acara yang tidak mau dilewatkan. Baginya video sangatlah berharga karena tidak setiap hari orang punya hajatan dan menyediakan video sebagai tontonan gratis. Itulah sebabnya Parto dan teman-temannya tidak hanya menonton video di desanya melainkan juga desa-desa tetangga yang lumayan jauh.

Parto tidak pernah membaca buku atau belajar kecuali didalam kelas. Dia merasa bahwa buku tidak menarik karena berisi angka-angka atau deretan abjad yang tidak menjawab keinginannya. Jika mendengar kata Matematika, Parto selalu mengernyitkan dahi pertanda tidak paham. Dia mengaji di masjid pun tidak ingin mengerti kandungan dalam Al Quran melainkan ingin berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Baginya, menjadi Islam itu cukup dengan hanya bisa membaca Al Quran dan menjalankan rukun Islam. Parto begitu alamiah seperti alam yang telah membentuk daya kreatifitasnya.  

Namun ada satu anak yang sangat dibenci oleh Parto. Laila, seorang anak perempuan teman kelasnya yang selalu menjadi juara kelas. Laila tidak pernah bermain bersama anak desa lainnya karena hari-harinya dihabiskan dirumah untuk belajar dan mengaji sehingga hafal dan paham semua pelajaran yang disampaikan oleh guru. Laila adalah seorang anak dari kyai pemangku masjid di Desa Watu Jati, Kyai Harun. Kyai Harun adalah panutan masyarakat desa karena anak-anak mereka selalu mengaji setiap malam di masjid dibawah bimbingan Kyai Harun.

Parto membenci Laila bukan karena kecerdasan dan prestasinya. Tetapi karena Jamilah, ibunya Parto sering sering membanding-bandingkan Parto dengan Laila. Dia menganggap bahwa Parto sisi dunia lainnya Laila. Parto hanyalah seorang anak yang selalu bermain sampai lupa belajar sedangkan Laila adalah seorang anak yang selalu belajar sampai lupa bermain. Hampir tiap hari Jamilah memarahi Parto.

‘Kamu itu sukanya main terus, tidak pernah belajar….kamu itu harus meniru Laila, anaknya Kyai Harun yang selalu rangking kelas!’

Kata-kata itu hampir setiap hari masuk ke telinga kanan Parto lalu mampir sebentar di otaknya sebelum keluar dari telinga sebelah kiri. Jika mendengar kata-kata tersebut Parto biasanya langsung ngeloyor keluar rumah untuk bermain bersama teman-temannya. Baginya Laila hanyalah anak rumahan yang tidak tahu bagaimana caranya menikmati keindahan desa.

Kenyataannya memang Parto tidak pernah menang dari Laila dalam hal prestasi kelas. Bahkan ketika ujian nasional kelas 6, Laila mendapatkan nilai tertinggi dan menjadi lulusan terbaik. Semua orang desa memujinya sebagai siswa yang harus diteladani oleh semua anak-anak desa. Para orang tua selalu berharap anak-anak mereka bisa menjadi bintang kelas dan mengalahkan Laila.

Sedangkan Parto berada diperingkat paling bawah dari 40 siswa. Tidak ada yang memperhatikan prestasi Parto karena mereka semua sudah tahu bahwa Partolah yang akan mendapatkan posisi juru kunci pada acara kelulusan siswa kelas 6 di sekolah tersebut. Toh dia tidak merasa kecewa karena baginya itu adalah prestasi yang sudah sangat baik mengingat malam sebelum ujian nasional dia menonton video semalam suntuk.

Kegemaran Parto bermain tersebut akhirnya menggiringnya ke pesantren. Orang tua Parto sudah mantap untuk mengungsikannya dari desa agar tidak bermain lagi. Maka dipilihlah pesantren dimana dulu bapaknya pernah nyantri yang letaknya sekitar 50km dari Desa Watu Jati. Pesantren tersebut dipilih karena selain menyediakan pengajian kitab-kitab klasik juga mempunyai sekolah umum mulai dari tingkat dasar sampai menengah atas.

Parto juga tidak keberatan dengan ide orang tuanya tersebut karena baginya pesantren sama saja dengan masjid. Dia bahkan bisa mempunyai lebih banyak teman dan tidak pernah dibandingkan lagi dengan Laila. Maka dia juga ingin secepatnya pergi ke pesantren tersebut. Hanya sang kakek, Dulkarim yang merasa agak keberatan jika Parto tinggal di pesantren karena masih terlalu kecil. Selain itu dia juga merasa kehilangan cucu yang paling disayanginya tersebut. Apalagi Parto harus tinggal di pesantren karena letak pesantren yang jauh dari desa.







   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar