Rabu, 26 November 2014

Intuisi Ibu Tak Bisa Dibohongi (Bagian I)

Juli 1997 merupakan babak baru kehidupan Parto karena dia baru saja lulus dari SMA di pesantrennya. Namun jika teman-temannya begitu semangat merayakan kelulusan sampai corat coret baju dan naik motor di jalan-jalan utama kecamatan, Parto justru meratapi nasibnya. Bukan karena dia disemprot habis-habisan oleh kepala sekolah beberapa hari yang lalu melainkan karena dia bingung harus kemana setelah lulus SMA.

Kini dia tidak lagi di Pesantren dan harus pulang ke rumah. Beberapa kali dia bertemu dengan teman-teman semasa SMA nya dulu untuk berbagi pikiran mengenai masa depan. 


Banyak dari teman-temannya yang bilang akan ke Bali untuk bekerja. Sangat umum di kalangan pemuda-pemuda desa di Banyuwangi lebih suka bekerja di Bali daripada harus melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Selain karena faktor ekonomi juga karena kuliah masih belum menjadi perhatian utama masyarakat. Banyak orang yang sebenarnya kaya namun tidak menyekolahkan anaknya ke jenjang universitas. Bagi sebagian besar masyarakat lebih baik anak setamat SMA bekerja di Bali atau menjadi TKI. Lebih nyata menghasilkan uang daripada kuliah yang belum tentu bisa bekerja. 


Parto menghadapi situasi yang sulit. Sebenarnya dia ingin sekali kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya atau Malang. Selain karena SPP nya per semester cuma 180 ribu dua daerah tersebut masih dekat dengan Banyuwangi. Namun dia tidak yakin apakah orang tuanya punya uang untuk menyekolahkannya. Dia tahu selama di pesantren orang tuanya sering terlambat mengirimkan uang bulanan. Padahal SPP di pesantren cuma 7000 rupiah per bulan. Kebutuhan per bulan juga tak lebih dari 50.000 rupiah. 


Kondisi itulah yang membuat Parto berfikir keras untuk menyelamatkan masa depannya. Dia jelas tidak mau kembali ke sawah dan menjadi petani seperti keluarga besarnya. Baginya menjadi petani tidak punya masa depan yang jelas. Apalagi sawah orang tuanya hanya seluas seperempat hektar. 


"Aku tidak mau terjerat dengan kepompong kemiskinan ini" Begitulah kira-kira yang ada di benak Parto setamat dari SMA.


Suatu hari sehabis shalat Dhuhur di rumah neneknya di Watu Jati, Parto tak mampu bangun dari sujudnya setelah salam. Bukan karena sakit melainkan dia menangis seharian memohon kepada Tuhan untuk diberikan jalan terang meneruskan hidupnya. 


Tuhan....Aku tahu aku bukan termasuk makhluk yang paling Engkau cintai namun jika boleh aku memohon kepadaMu berikan petunjuk kepadaku untuk melangkah demi meneruskan hidupku yang lebih baik." Begitu Parto berdoa sepanjang hari sampai waktu Ashar tiba.


Sehabis Maghrib Parto memutuskan untuk menemui ibunya, Jamilah.

"Mak, aku akan ke Semarang ke rumah nenek. Kalau boleh minta uang untuk jalan. Uang sekali jalan aja mak, mungkin 20 ribu. Besok pagi aku berangkat naik kereta dari Stasiun Rogojampi." Parto langsung mengatakan kebutuhannya sesaat dia mencium tangan Jamilah.

Seperti biasa Jamilah tidak pernah menawar karena dia yakin Parto punya alasan tepat untuk ke Semarang.


"Ya le, salam buat Mbah di Semarang dan hati-hati di jalan. Doaku selalu menyertaimu semoga kamu mendapat kebaikan dimanapun." Jamilah berpesan kepada Parto sembari mengeluarkan uang dari balik bajunya.


Pagi-pagi jam 5 Parto diantar oleh bapaknya ke terminal. Dia hanya membawa tas punggung kecil yang berisi satu baju dan celana serta sikat gigi. Parto melanjutkan perjalanan naik bis ke stasiun Rogojampi.


Namun dia ternyata tidak berhenti di stasiun melainkan di depan masjid yang berada sekitar 300 meter dari stasiun. Parto bersandar di tembok masjid depan. Rupanya dia menunggu matahari terbit untuk melakukan shalat Dhuha. Rupanya dia masih ingat aktifitas sehari-hari yang dilakukan ketika di pesantren dulu.


Setelah Shalat Dhuha Parto tidak langsung ke stasiun melainkan justru tidur-tiduran di selasar masjid. 


Lho, bukankah dia harus mengejar kereta pagi ke Surabaya jika ingin ke Semarang? Namun Parto justru tidur sampai Dhuhur dan shalat di masjid itu. Baru setelah Ashar dia berjalan ke stasiun. Namun tidak untuk membeli tiket melainkan untuk makan di warung tenda yang berada di depan stasiun. 


Setelah makan baru dia berjalan perlahan ke stasiun dan dilihatnya jam masih menunjukan pukul 5 sore. 


"Ahh masih lama nih," Kata Parto sembari melihat jadwal kereta Pandanwangi dari Stasiun Kalibaru ke Banyuwangi kota yang terjadwal jam 7 malam.


Ternyata Parto tidak naik kereta yang kearah barat melainkan justru yang ke timur. Dia ternyata sudah memutuskan untuk mengikuti teman-temannya yang bekerja di Bali. Namun dia harus berbohong kepada ibunya karena jika ijin kerja di Bali pasti tidak akan direstui.


Sebagai keluarga religious, orang tuanya Parto masih melihat Bali sebagai sebuah pulau yang tidak Islami karena didominasi oleh penganut Hindu. 


Parto memutuskan untuk mengambil kereta malam ke arah Banyuwangi untuk menghindari tiket. Jadi dia sengaja tidak membayar tiket karena pintu masuk ke peron tidak dijaga oleh petugas. Banyak stasiun-stasiun kecil yang tidak dijaga oleh petugas jadi orang bisa keluar masuk peron dan bahkan menyeberang rel.


Setelah kereta tiba Parto melihat masinis yang biasanya turun dari kereta. Dilihatnya si masinis turun dari gerbong paling belakang. Jadi Parto memutuskan untuk naik dari gerbong paling depan. Hal ini dia lakukan agar dia punya banyak waktu untuk berpindah-pindah gerbong ketika masinis mengecek tiket penumpang.


Selang beberapa menit berjalan ternyata si masinis sudah sampai di gerbong depan dimana Parto bersembunyi. Parto yang berdiri di sambungan kereta terlihat agak gugup. Dia tidak memandang si masinis untuk menutupi rasa gugupnya.


"Tiket-tiket...." Terdengar suara si masinis yang mulai mendekat. Parto mengambil nafas agak dalam untuk mengatur ritme saraf darahnya yang mulai tak beraturan.


"Saya tadi sudah bayar pak..!!" kata Parto sembari melihat si masinis. 


Si masinis tidak berkata apa-apa dan hanya berlalu. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya Parto belum membayar karcis dan memang tidak punya karcis. Si masinis berlalu karena tidak tahu siapa saja penumpang kereta yang sudah bayar cash diatas kereta kepadanya. Rute kereta jarak dekat biasanya memang dijadikan lahan empuk masinis kereta untuk mendapatkan uang haram dari penumpang gelap. Bahkan mungkin si masinis lebih suka penumpang tanpa karcis karena bisa mendapatkan ceperan.


Setelah sekitar 30 menit Parto sampai di Stasiun Banyuwangi. Selanjutnya Parto menuju ke Pelabuhan Ketapang, satu-satunya pelabuhan yang secara langsung menghubungkan pulau Jawa dan Bali. 


Namun Parto juga tidak langsung membeli tiket melainkan menuju mushala untuk melakukan shalat Maghrib dan Isya. Seperti biasa dia tidur-tiduran di mushala untuk menunggu tengah malam.


Setelah jam menunjukan pukul 11.45 menit dia berjalan menuju ke anjungan kapal. Dilihatnya ada satu kapal yang sudah mau berangkat. Dia berjalan perlahan-lahan kearah kapal yang jangkar pintunya sudah mulai terangkat dari anjungan.


Setelah dekat dia berlari masuk kapal dari pintu yang sebenarnya digunakan untuk keluar masuknya mobil. Tentu Parto masuk kapal tanpa harus beli tiket. Seperti biasa anjungan kapal tidak ada yang menjaga karena setelah petugas mengangkat jangkar langsung pergi. Dia tidak ingin berlama-lama disitu karena pasti sudah ngantuk berat. 


Itulah sebabnya Parto memutuskan untuk masuk kapal tengah malam biar dapat gratisan. 


Perjalanan naik kapal Fery membutuhkan waktu sekitar satu jam. Jadi ketika di Pelabuhan Gilimanuk Bali waktu sudah jam 2 pagi. 


Dari pelabuhan dia berjalan ke terminal bis terdekat yang jaraknya sekitar 1 km. Parto langsung masuk ke satu bis kecil. Dilihatnya beberapa penumpang dengan wajah lelah menunggu keberangkatan bis. 


Parto duduk di bagian belakang. Disandarkannya kepalanya ke jendela bisa yang sedikit terbuka. Dia berharap bisa tidur nyenyak dan bangun ketika bis sudah sampai esok hari di Terminal Ubung Bali.


(bersambung..)




 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar