Tampilkan postingan dengan label NOVEL PARTO DA GAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NOVEL PARTO DA GAMA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2018

Telepon Hantu

Parto senang bukan kepalang ketika namanya tercantum sebagai salah satu peserta International Conference on Peace and Resolution yang diadakan Asian Muslim Action Networks (AMAN) Indonesia pada bulan Desember 2006 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Senang karena Parto bisa ke Jakarta mengikuti konferensi tersebut secara gratis, tinggal di hotel dan makan enak....

Kapan lagi kalau tidak sekarang, begitu pikir Parto yang dari dulu emang suka gratisan.

Selain Parto, ada dua orang lagi di geng Scholarship Hunter Maguwo yang juga akan mengikuti konferensi tersebut, Sukron dan Samsul. Mereka sepakat untuk bertemu di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta besok sore.

Satu hari menjelang konferensi mereka berangkat bersama-sama naik kereta ekonomi Progo dari Yogyakarta jurusan Jakarta. Cuma butuh sekitar 9 jam perjalanan mulai jam 4 sore sampai jam 3 pagi tiba di Pasar Senin Jakarta.

Sesampainya di Pasar Senin, Parto, Sukron dan Samsul langsung naik Bis 76 Jurusan Ciputat yang ditempuh kurang dari dua jam perjalanan. Mereka tidak sabar bertemu dengan para pemikir besar seperti Gus Dur dan Prof. Azumardi Azra yang menjadi pembicara di konferensi tersebut.

Keesokan harinya, mereka bertiga telah membaur dengan peserta lain di Hall UIN Syarif Hidayatullah. Parto begitu tidak terlalu bersemangat menikmati setiap sesi konferensi. Beberapa kali dia justru meminta nomor telepon ke orang-orang yang dia anggap berpotensi untuk menjadi mitra/kolega lalu memasukkan nomor-nomor telepon tersebut ke HP Nokia jadulnya.

Parto selalu memasukkan nomor-nomor tersebut ke HP nya karena dia tidak mempunyai kartu nama dan juga tidak punya pulsa. Dia selalu bilang ke orang-orang tersebut untuk mengirimkan sms atau telepon suatu hari nanti.

Di hari pertama tersebut Parto lebih sering sibuk untuk mencari nomor telepon daripada mengikuti sesi konferensi. Dia berlalu lalang untuk mencari orang di setiap acara coffee break, makan siang dan makan malam.

Di hari kedua, Parto tidak terlalu sibuk mencari orang karena dia merasa sudah mendapatkan banyak calon kolega yang dia kira dapat membantunya untuk mengembangkan jaringan dan jika mungkin menawari pekerjaan.

Parto di hari kedua konferensi tersebut lebih sering duduk menjadi peserta sesi konferensi hingga sesi terakhir di hari kedua selesai.

Sebelum pulang ke penginapan Parto melihat HP nya yang selama sehari itu nyaris beristirahat tak tersentuh sama sekali.

Lalu dia lihat ada nomor telepon rumah dengan kode 021 atau Jakarta yang menelpon ke HP nya sebanyak 11 kali.

Gila....ini siapa ya kok telepon sampai 11 kali? Siapa kira-kira...gumam Parto dalam hati. Mungkinkah hantu yang sengaja iseng telepon barkali-kali? Parto berhayal.

Parto tidak tahu ada telepon masuk karena ring tone HP nya dimatikan selama mengikuti sesi konferensi.

Parto bingung karena mau telepon balik tidak bisa karena tidak punya pulsa. Lalu dia ke warnet terdekat untuk menelpon balik.

"Mohon maaf, silahkan telepon lagi besok pagi karena sekarang sudah lewat jam kerja." Parto mendengar suara di telepon tersebut.

Parto semakin penasaran dengan banyaknya nomor telepon tersebut dan jawaban untuk menelpon besok paginya. Padahal besok dia masih harus ikut konferensi.

Akhirnya Parto memutuskan untuk tidak ikut sesi konferensi dan tinggal di penginapan selama hari ketiga. Dia memilih untuk mendekap dan banyak melihat ke HP jadulnya, berharap nomor yang kemarin akan menelponnya kembali.

Ting tang tung ting tang tung....terdengar suara ringtone dari HP jadulnya...Parto bergegas mengangkatnya.

Selamat pagi....apakah ini benar dengan Ahmad Suparto? terdengar suara perempuan dari telepon seberang. Suaranya lembut dan agak sopran.

Iya benar saya Parto....Parto menjawab suara tersebut.

Perkenalkan nama saya Rowena Rompas dari British Council Indonesia...saya kemarin menghubungi Pak Parto namun tidak diangkat. Saya hanya mau memberitahukan bahwa Pak Parto masuk seleksi wawancara beasiswa CHevening ke Inggris tahun 2007. Besok harus ke Surabaya untuk menghadiri sesi wawancara yang bertempat di Hotel Novotel Surabaya. Silahkan bawa KTP untuk ditunjukkan ke panitia seleksi.

Baik bu....jawaban Parto begitu singkat. Parto tercekat, suaranya seperti tersangkut di tenggorokan. Dia senang bukan kepalang karena lolos seleksi administrasi. Namun dia juga takut akan melewatkan sesi wawancara di Surabaya karena posisinya masih di Jakarta.

Sukron...Samsul..aku harus ke Surabaya hari ini karena harus ikut wawancara Beasiswa Chevening ke Inggris besok. Sorry guys aku ga bisa ikut konferensi sampai selesai. Doakan aku bisa lolos interview.....agar aku dapat mengabarkan ke kalian bahwa aku akan bermain salju di tahun 2007.............Bersambung..

Jember, 5 April 2018


















Senin, 02 April 2018

A Lion Walks Alone

Sekitar dua dekade lalu Parto mengenal istilah Eagle Flies Alone, sebuah nick name yang digunakan oleh Dr. Riswanda Imawan, seorang pengajar di jurusan ilmu politik Universitas Gadjah Mada yang aktif menulis di Koran Jawa Pos. 

Parto mengenal Dr. Riswanda melalui tulisan-tulisannya yang banyak tersebar di media massa. Meskipun tidak pernah melihat dan bertemu secara langsung, Parto sangat mengagumi sosok Riswanda. Terlebih lagi nick name yang digunakan adalah "Seekor Burung Elang yang Terbang Sendirian". 

Parto bermimpi suatu saat mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan Dr. Riswanda. Namun apa daya, sang idolanya tersebut keburu meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda, ketika Parto masih menjadi mahasiswa program sarjana. 

Meskipun sosoknya telah tiada, nick name nya Dr. Riswanda mengilhami Parto untuk menggunakan nick name yang mirip, yaitu A LION WALKS ALONE dan kemudian juga menginspirasinya untuk menggunakan account emailnya Parto, ALIONINE.

Kini Parto masih mempunyai beban berat untuk mengikuti jejak idolanya tersebut, yakni aktif menulis ide-idenya dan menyebarkan di berbagai media massa dan jenis publikasi lainnya. 

Jember, CHRM2 2 April 2018.

  

Minggu, 15 Februari 2015

Misteri PhD

Sebenarnya menjadi mahasiswa PhD itu kunci utamanya bukanlah pintar atau kaya melainkan endurance (ketahanan) atau yang dalam bahasa umumnya disebu Istiqamah. Pintar mungkin justru menempati posisi ketiga atau yang kesekian kalinya karena setelah kita punya daya tahan yang bagus, elemen penting nomor dua nya adalah motivasi. Dua hal ini menjadi bagian penting yang tak boleh hilang selama menjadi mahasiswa PhD selama lebih dari 1000 hari.

Kenapa endurance dan motivation yang penting? Bukankah syarat kelulusan mahasiswa doktor itu harus menemukan teori baru, barang baru, dan semua hal-hal yang belum pernah diteliti sebelumnya? Nah, untuk bisa mendapatkan maha karya itu bukankah dibutuhkan kecerdasan otak yang luar biasa?

Mayoritas masyarakat punya anggapan seperti itu terhadap mahasiswa doktoral. Namun setelah masuk kedalamnya baru mereka akan tahu bahwa pinter/cerdas itu penting namun masih kalah dengan endurance dan motivation.

Kenapa? Karena selama berhari-hari dan berbulan-bulan dalam kurun tahunan seorang mahasiswa PhD nyaris bekerja sendiri. Supervisor menganggap mereka sebagai kolega yang tak harus disetir setiap hari. Supervisor baru akan meminta mahasiswanya menghadap jika ada sesuatu kesalahan serius dari penelitian si mahasiswa tersebut. Jika aman-aman saja dan hanya punya persoalan yang sepele biasanya hanya cukup pemberitahuan melalui email.

Beda dengan mahasiswa Master dan Undergraduate yang punya timetable sangat jelas dan padat. Bahkan setelah tiga tahun menjadi mahasiswa PhD baru aku tahu bahwa menjadi mahasiswa master itu jauh lebih berat. Semua tugas kuliah harus selesai tepat waktu atau kena pinalti jika terlambat mengumpulkan.

Lalu kenapa banyak mahasiswa Doktor yang seringnya lulus terlambat jika PhD bukan sesuatu yang sulit? Jawabnya gampang saja. Karena rata-rata dari mereka tidak punya dua elemen penting tadi. Seringkali mahasiswa PhD terlena tidak kerja keras karena tidak ada target dari supervisor. Jadinya mereka menjadi full time traveller atau full time worker dan hanya menjadi part time researcher.

Namun ternyata lulus telat dari kuliah PhD itu masih jauh lebih baik. Ada beberapa yang drop out (DO) atau walk out (WO). Kalau DO karena mereka terpental, kalah bertarung selama menjadi PhD. Mahasiswa yang DO ini juga bukanlah mahasiswa yang tingkat kecerdasannya jelek melainkan justru seringkali cenderung pinter. Kelemahannya mereka punya tingkat endurance yang jelek atau tidak bisa mengatur motivasi sehingga seperti mobil yang kehilangan setir.
Kalau mahasiswa PhD yang WO biasanya mereka yang berusaha mengembalikan endurance dan motivation yang pernah hilang namun karena tekanan atau godaan yang datang terlalu besar maka memutuskan untuk menyudahi pertarungan ketika bel pertandingan belum dibunyikan untuk mengakiri pertarungan. Mereka menyerah kalah.

Jadi kalau menjadi mahasiswa PhD itu mudah kenapa banyak yang takut untuk masuk ke dunia PhD. Apakah misterinya terlalu gelap dan sulit terbaca?

London

Kamis, 08 Januari 2015

Parto pun Tersadarkan


Bis Rela jurusan Purwodadi - Solo melaju perlahan. Maklum karena penumpang sudah penuh sehingga si supir tidak perlu ngebut untuk rebutan penumpang dengan bis lain. Jika saja penumpangnya sedikit, pastilah bis yang body nya sudah seperti perawan era 45an tersebut seperti gerobak yang didorong sangat keras. Dimana-mana terdengar bunyi 'grobyak-grobyak' karena semua sambungan besi dan baja di badan bis sudah sangat tua. Apalagi jalanan Purwodadi - Solo banyak yang bergelombang karena struktur tanahnya yang bergerak.

Parto sampai di Terminal Tirtonadi sekitar jam 6 sore. Buru-buru dia menuju Mushala di pojok terminal yang dikenalkan oleh Didi Kempot lewat lagunya Tirtonadi. Sehabis shalat dia ke ruang tunggu bis yang lebih mirip seperti ruangan bengkel karena lantainya yang sudah menghitam karena terkena solar dan oli bis setiap hari.

Kukup lama dia menunggu bis jurusan Surabaya - Yogyakarta yang biasanya berhenti di salah satu terminal terbesar di Jawa Tengah tersebut. Untuk menghilangkan penat, Parto duduk di bangku besi yang catnya sudah banyak yang mengelupas sambil minum air mineral. Dia termenung....memikirkan banyak hal mulai dari orang berlalu lalang didepannya sampai urusannya sendiri.

Tiba-tiba pikiran Parto kembali ke 12 jam yang lalu ketika dia masih di Jakarta. Ya....Parto baru saja membuat keputusan yang sangat besar didalam sejarah hidupnya. Dia berani memutuskan untuk melamar Tumi meskipun dia tahu bahwa sebenarnya masih banyak hal yang harus diselesaikan berdua.

Salah satunya adalah perbedaan duniannya dengan dunia Tumi. Dunia Parto adalah dunia yang sangat menyenangkan karena tidak ada sekat dengan alam. Dia tak pernah membatasi dirinya dengan keadaan yang dihadapinya. Tidur di hotel berbintang sampai tidur di pinggiran sungai beralaskan alang-alang sudah pernah dia alami.

Makan di restoran elit sampai makan nasi sedikit basi di tengah hutan juga pernah ia alami. Naik pesawat kelas bisnis sampai berjalan kaki sepanjang malam yang mencekam juga pernah ia lakukan.

Semuanya begitu dinikmati Parto tanpa harus merasa malu atau bangga. Hidupnya begitu mengalir apa adanya.

Dia sedikit ketakutan akan kehilangan kehidupannya jika nantinya dia menikah dengan Tumi yang menurutnya kehidupan Tumi sedikit berbeda. Sebagai seorang perempuan dengan latar belakang kehidupan kota tentu Parto yakin Tumi tak akan pernah mengalami masa-masa indah kehidupan manusia seperti yang dialaminya.

Parto bingung! haruskah ia memilih untuk hidup bersama Tumi namun harus merelakan kehidupannya yang begitu disukainya dan berbagi dengan Tumi ataukah memutuskan untuk terus meneruskan derap langkah kehidupannya sendirian.

Pasti Parto masih ingat sejarah Soekarno ketika dia diasingkan oleh Belanda. Ketika itu Soekarno sebagai seorang pemimpin harus hidup sendiri di Pulau Ende Flores. Belanda sangat cerdik karena jika ingin membunuh Soekarno tidak berarti harus memotong leher atau urat nadinya, cukup diasingkan dari dunianya saja.

Nah, bisa dibayangkan jika Parto harus seperti Soekarno ketika dia hidup bersama Tumi. Tapi....Parto berfikir keras, masak sih Tumi sama dengan Kompeni Belanda??? tapi bisa saja kan Cintanya kepada Tumi itulah yang justru nanti menjadi penjara yang bisa lebih kejam daripada Pulau Ende????

aahhh...........masak bodo lah! gumam Parto dalam hati sambil membuang botol air mineral yang sebenarnya sudah kosong ke tong sampah didekatnya. Dia mulai melihat jam di hp nya yang sudah menunjukan pukul 6.30 menit. Tanpa sadar Parto ternyata sudah di Terminal itu sekitar 30 menit. Saat Parto masih asyik bercengkerama dengan pikirannya, tiba-tiba ada tangan yang menujur kearahnya....

Mas minta uang mas buat makan!?? ada suara lirih didepannya.
tanpa ba bi bu Parto langsung memberi isyarat tidak ingin memberi dengan menodongkan tangannya ke depan sembari menggerakan ke lima jari tangannya ke kanan dan kekiri tanpa bersuara.

Si peminta-minta itu pun segera berlalu tanpa berucap. Tetapi ternyata dia tidak berlalu terlalu jauh, cuma disamping Parto. Ternyata orang itu mengais botol air mineral yang dibuangnya tadi untuk dimasukan ke dalam tas kresek.

Buru-buru Parto tersadar bahwa orang tersebut benar-benar butuh uang untuk makan. Pakaiannya yang lusuh dan kaki kirinya yang harus disangga dengan tongkat menujukan bahwa orang ini adalah rakyat-rakyat Indonesia sebagai korban keningratan kelompok kaya tanpa perasaan. Mereka terlalu sibuk menumpuk uang sehingga lupa kehidupan kumal di sekelilingnya.

Parto langsung mencari uang receh di saku dan tas punggungnya. Tetapi sial ternyata dia cuma mendapatkan uang 200 rupiah. Dia tidak berani membuka dompet karena disitu uangnya tinggal 24 ribu untuk beli tiket bis cepat ke Jogja. Dia ingat betul bahwa uang didompetnya tinggal 24 ribu. Lalu buru-buru dia berikan 200 rupiah itu ke gelandangan tersebut.

ini pak....suara Parto serak menahan sebuah emosi yang sangat dalam. Dia merasa bersalah tidak bisa memberi uang banyak dan tadinya menolak orang itu.

dia terus memperhatikan orang itu mengais tong sampah yang baunya agak menyengat karena sampah kering dan basah bercampur jadi satu.hatinya tidak tega orang itu harus bergelut dengan kotoran untuk sesuap nasi sedangkan orang lain sangat mudah mengkorupsi uang jaminan sosial.....siapakah yang bersalah dalam hal ini? Parto bergumam dalam hati.

sembari terus melihat orang itu, dia berani membuka dompet sapa tau ada uang yang menyelip di dompet. dan ternyata benar ada uang 5000 rupiah disela-sela dompetnya.lalu dia berikan uang itu kepada gelandangan lusuh tersebut.

ini pak buat beli makan, maaf ya. Parto berusaha membayar sikap penolakannya dengan prinsip hukum jual beli. ketika dia mengucapkan maaf dan orang itu tidak marah, maka Parto berfikir bahwa secara hukum orang itu telah memaafkannya. sama halnya ketika dia beli barang di supermarket.
terima kasih banyak mas....terima kasih terima kasih! kata orang tersebut.
hatinya Parto seperti tersayat-sayat, kasihan dan emosi bercampur jadi satu.

didalam hati Parto bertanya, yang mana sih tanggungjawab sosial, belas kasihan, moral dan etika dalam kehidupan???

(bersambung......................)
London

Rabu, 07 Januari 2015

Kekalahan Parto

Suatu saat Parto sakit kuning atau Hepatitis A. Salam, bapaknya Parto berusaha untuk membawa Parto ke puskesmas terdekat namun Parto menolak karena dia tahu nanti sesampainya di puskesmas akan disuntik oleh perawat desa.

Untuk menyiasatinya, Salam meminta Romelah, kakaknya Parto untuk membujuknya.

Suatu hari ketika Parto bermain di sungai bersama teman-temannya, Romelah datang dengan maksud membawa kabar baik.

Parto kecil tidak saja pandai berenang tetapi juga dikenal oleh orang kampung sebagai anak sungai karena sehari-hari terus disungai. Ada saja yang dilakukan seperti mandi, bermain 'jumpritan' mencari ikan, dan mencuci baju. Bermain jumpritan adalah favoritnya Parto. Permainan ini biasanya diikuti oleh beberapa orang. caranya, yang kalah hum pim sut pertama kali harus memegang kepala teman-temannya. nah, teman-temannya ini harus menyelam dan sembunyi didalam air sesembari muncul di permukaan agar tidak kena kepalanya.

Parto, kamu mau diajak ke Pantai Grajakan sama bapak...cepet sana pulang...!! Romelah memanggil Parto yang sedang mandi di sungai bersama teman-temannya.

Ayo cepetan, nanti aku tinggal.......!!! sambung kakaknya dari pinggiran sungai.

Grajagan adalah satu-satunya pantai di daerah selatan Banyuwangi yang dikelola oleh pemerintah. Ia menjadi primadona masyarakat Watu Jati karena untuk mencapai ke daerah tersebut hanya dibutuhkan waktu sekitar satu jam naik sepeda pancal. Setiap minggu Grajakan selalu dipenuhi oleh pengunjung. Nah, bapaknya Parto sering mengajak Parto dan Romelah kesana.

Ahh....bohong, paling-paling aku mau disuntik!! kata Parto. Parto seperti mencium konspirasi tingkat tinggi antara Romelah dan Salam. Parto memang sangat takut sama suntik. Bahkan ketika ada imunisasi cacar di sekolah dia juga bolos pulang.

Nggak, tuh lihat bapak sudah mengeluarkan sepeda. Cepetan nanti keburu siang...!! Romelah berusaha meyakinkan Parto yang masih agak tidak percaya dengan ajakan ke Grajakan tersebut. Dia masih terus bermain dengan teman-temannya di dalam air sungai yang agak keruh.

Ya udah kalau gitu, aku berangkat sendiri dengan bapak....!! kata Romelah sambil ngeloyor pergi meninggalkan Parto bersama teman-temannya.

Tapi lama-lama Parto juga ingin tahu, masak iya sih bapak dan kakaknya akan ke Grajagan. Padahal itu kan tempat favoritku....bisik Parto dalam hati.

Akhirnya Parto pun bergegas menyusul kakaknya yang sudah hampir sampai rumah. Parto berlari-lari kecil sambil menyerempangkan bajunya di pundak.

Memang pada waktu kecil Parto tidak pernah memakai baju, cuma disarungkan atau diserempangkan dipundak. Makanya kulitnya hitam dan rambutnya merah karena selalu mandi di sungai tiap hari. Parto bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam mandi di sungai bersama teman-temannya.itu juga yang membuat Parto lupa makan dan memperhatikan kesehatannya yang akhirnya menyebabkan Parto terancam penyakit Liver.

Ketika Parto akan sampai di rumah, seketika itu ada dua orang yang menyergapnya. Mereka adalah pamannya Parto, Sofyan dan tetangganya Parto bernama Sutip yang dipesan khusus oleh bapaknya Parto untuk membantu menangkap Parto.

Parto meronta...tapi tidak berdaya karena dua orang kekar tersebut langsung menangkap tangan dan kakinya. Parto dibawa kedalam rumah seperti seorang tahanan perang. Dia tak begitu tak berdaya meronta dalam jerit tangis yang memilukan.

Sesampainya dirumah, Parto diletakan di meja besar yang sudah disiapkan untuk Parto. Dokter Mansur juga sudah didatangkan untuk menyuntik Parto. Tetapi permasalahannya Parto sangat benci dan takut sama jarum suntik. Makanya dia tidak pernah ke dokter kalau sakit. Dia biasanya cuma tidur dirumah saja.

Parto masih terbaring di atas meja seperti tawanan perang. Tangannya dipegang dengan sangat kuat oleh dua orang sewaan Salam. Parto melihat keduanya seperti algojo yang siap menghujamkan pedangnya ke leher Parto.

Parto terus menangis dan meronta sekuat tenaga. Tangisan nya semakin kuat seskipun dia tahu tidak akan mampu melawan kedua algojo tersebut.

Jancuuuuukkk, matamuuuuuu, asuuuuuuuu...........tiba-tiba Parto mengucapkan tri-sila bahasa tersebut untuk menumpahkan kejengkelannya kepada kedua algojo yang tak pernah bersuara sedikitpun selain memegangi dengan erat tangan dan kakinya Parto.

Parto mengucapkan kata-kata tersebut berkali-kali. Salam terkejut dan seketika menyumpal mulutnya Parto dengan baju agar Parto berhenti mengucapkan kata-kata kotor tersebut.

Namun Parto tak mau kalah begitu saja. Dia seakan tidak mau walk out (WO) dari pertarungan. Tiga kata itu terus diucapkan berkali-kali oleh Parto sambil terus meronta meskipun mulutnya sudah penuh dengan sumpalan baju. Dia tak peduli lagi dengan semua orang yang ada di situ.

Si dokter pun juga masih membisu menunggu titah dari Salam sebagai pemimpin konspirasi. Dia tak habis pikir kenapa bisa menemukan kata tri-sila tersebut di sebuah rumah reot di Watu Jati. Apalagi kata tersebut keluar dari mulut seorang anak kecil yang sedang meronta diatas meja.

Padahal tiga kata itu adalah kata paling seronok, jorok dan tidak pantas diucapkan dimuka umum. Jancuk adalah kata yang sering diucapkan oleh orang-orang Jawa Timur ketika mereka marah. Matamu kalau diucapkan dengan intonasi tertentu akan bermakna jelek karena mengandung unsur penghinaan terhadap seseorang yang diajak bicara. Sedangkan asu jelas merupakan konotasi dari anjing sebagai binatang yang menjijikan bagi umat Islam.

Selain meronta dan menangis, sesekali Parto juga berusaha meludahi dua orang algojo yang masih memegangi tangan dan kakinya. Beberapa kali Parto juga berusaha menjejakan kakinya. Tangannya juga terus diputar-putar dengan maksud agar genggaman dua orang tadi lepas.

Sutip Asuuuuu, Kowe Asu Tiiipppp...Raimu Yaaaaannn.....jancuuuuuuuuk!!!!! kata Parto berulang-ulang.

Ibunya Parto, Jamilah yang dari tadi cuma mendengarkan dari dapur juga akhirnya tak tahan untuk ikut mengurung pertahanan Parto dengan cara menampar mulutnya Parto. Jamilah juga berkata didekatnya Parto kalau tri-sila tersebut tidak boleh diucapkan.

Parto ternyata tidak diam atau takut tapi Jamilah juga ikut diludahi. Dia terus mengumpat. Bahkan kali ini kata-kata yang keluar semakin tidak karuan.....semakin saru dan tidak pantas didengar oleh orang lain karena sudah menyentuh bagian tubuh manusia.

Jelas kata-kata itu membuat orang tuanya Parto malu kepada semua orang yang ada disitu.

Dokter Mansur yang dari tadi sudah menunggu diruang tamu belum bisa berbuat banyak.  Dia menunggu arahan dari Salam yang masih sibuk menyumpal mulutnya Parto. Rupanya dia juga tidak tega melihat Parto yang diperlakukan seperti tahanan perang.

Gimana pak, jadi disuntik? kata dokter.

Parto yang mendengar kata 'suntik' dari dokter tersebut kontan juga melihat ke dokter dan berusaha meludahi si dokter dan mengata-ngatai dokter tersebut. Mungkin yang ada di benak Parto pada waktu itu adalah dokter tersebut adalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua ini. Dialah biang keroknya sehingga dia harus diperlakukan seperti tahanan perang.

Tanpa pikir panjang Parto mengatai dokter dengan kata-kata jorok.

Jancuk koen Sur, matamu, asu, raimu bangsaaaaatttttttttt@!!!!!!! kata Parto sambil meronta ingin menendang si dokter yang bernama Mansur. Dia adalah dokter kenalan bapaknya Parto dan sering bertugas ke kampung-kampung.

Ya udah pak di suntik sekarang aja..! kata bapaknya Parto sambil memberi kode kepada dua algojo Sofyan dan Sutip untuk membalikan badannya Parto biar bisa tengkurap. Untuk urusan ini jelas dua orang saja tidak cukup, dibutuhkan empat orang untuk membalikan badannya Parto. Jadinya paman, tetangga, bapak dan ibunya Parto bersama-sama membalikan badan Parto yang semakin lemas karena terlalu banyak keluar energi.

Setelah tengkurap, si Dokter mendekat sambil memegang jarum suntik yang sudah diisi obat ditangan kanannya. Parto tidak kalah akal, dia menengadahkan dan menengok ke kanan kiri untuk meludahi si dokter yang sudah membubuhkan obat bius di pantatnya. Disisa-sisa tenaganya yang sudah mulai habis, Parto masih berusaha meludahi sang dokter meskipun tidak kena sambil terus mengumpat.

jjuuussssssssssssss, akhirnya jarum suntik yang menjadi musuh bebuyutan Parto itu berhasil menembus daging pantatnya. Pada saat jarum suntik menembus pantatnya, Parto tidak saja seperti kalah bermain perang-perangan tetapi juga seperti kalah bermain kelereng sampai tidak punya sebutir kelereng pun disakunya. malu, marah, dan semua jenis amarah bercampur jadi satu. Tak rela rasanya dia harus kalah seperti ini. Sangat menyakitkan dan bahkan jauh lebih sakit rasanya daripada jarum suntik yang hanya beberapa detik menembus pantatnya.

Akhirnya dia hanya bisa menangis diatas meja seperti seorang gadis yang kerampokan keperawanan. Tak ada lagi gerak meronta dari tangan dan kakinya. Tubuhnya begitu lemas, meringkuk diatas meja. Yang ada adalah tangisan lirih.

Parto pun tak menyadari bahwa semua orang langsung keluar rumah seketika setelah dokter mencabut jarum suntik dari pantatnya Parto.

Dokter Mansur yang dari tadi sudah merasa malu karena terus dikata-katai dan diludahi Parto juga langsung cabut dari rumah. Bapak dan ibunya Parto tidak henti-hentinya minta maaf atas semua yang telah dilakukan oleh anak laki-laki satunya tersebut.

Drama penyanderaan selama sekitar 10 menit itu berakhir dengan kekalahan Parto yang lemas menangis diatas meja. Tetapi didalam hatinya dia sedikit bisa membusungkan dada karena bisa mengeluarkan semua ekspresinya kepada semua orang yang telah berlaku curang kepadanya.

Ga apa-apa aku kalah kali ini, menangis pun bukan berarti cengeng. Dokter itu yang penakut karena dia ga berani 'duel satu lawan satu' dengan ku....!!! kata Parto didalam hati.
jika aku bertemu dia, pasti aku akan mengajaknya duel........mungkin itu yang dipikirkan Parto saat itu.

Dan drama penyanderaan hari itu diakhiri dengan kekalahan Parto. Dia merasakan kekalahan itu begitu menyakitkan, lebih sakit daripada jarum suntik yang menancap di pantatnya...

Senin, 01 Desember 2014

Parto Jadi Pembicara di Parlemen Inggris

Seperti biasanya Parto selalu membuka email setelah menghidupkan komputer. Artinya hampir setiap hari dia membuka email. Tak lupa tentunya facebook sebagai jejaring sosial yang paling populer saat itu. Tak sahih rasanya Parto melewati setiap hari tanpa membuka email dan facebook disela-sela kesibukan riset doktoralnya.

Setelah emailnya terbuka Parto melihat satu email dari seseorang yang dia kenal. Disitu tertulis Papang Hidayat. Ya dia adalah seorang Warga Negara Indonesia yang bekerja untuk Amnesti Internasional yang berkantor di London. Parto Penasaran kenapa Papang mengirim email padahal biasanya cuma mengirim wassap ataupun sms.

Jika dilihat dari judul emailnya, email Papang tersebut sangat penting. Di kalimat awal Papang menulis "Bro, ada tawaran menarik nih, mau ga? Sori aku ga bisa karena ada acara." Cuma kalimat itu yang ditulis Papang. Selebihnya adalah tulisan dalam bentuk email yang terforward. Ternyata seseorang telah mengirim email ini ke Papang dan diteruskan ke Parto.

Lalu Parto membaca semua kalimat yang ternyata dalam Bahasa Inggris tersebut. Si Pengirim pertama meminta kepada Papang untuk menjadi pembicara di sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Parlemen Inggris di Westminster. Ternyata Papang berhalangan hadir dan dia forward ke Parto. Siapa tahu Parto tertarik untuk menggantikannya.

"Wah, oke nih bro tawarannya. Oke deh aku siap." Parto membalas singkat emailnya Papang setelah melihat timetable pelaksanaan seminarnya, jam 7 - 8 sore hari Rabo di Discussion Room of House of Common. House of Common adalah tempat berkumpulnya para senator Inggris atau semacam MPR nya Indonesia.

Sebagai orang Indonesia tentu Parto sangat bersemangat untuk bisa berbicara di parlemen Inggris. Apalagi temanya tentang "Religious Radicalism in Indonesia", sebuah tema yang sangat cocok dengan riset doktoralnya Parto.

Pada hari pelaksanaan Parto telah menyiapkan semuanya. Dia hanya mendapatkan undangan menjadi pembicara dari email panitia. Selebihnya dia berjanji untuk bertemu dengan panitia di depan pintu masuk Gedung Parlemen Westminter.

Tepat jam 6.30 Parto sudah menunggu Annum, seorang perempuan muda yang ditugasi oleh panitia untuk menjemput Parto di gerbang masuk parlemen. Mereka berdua kemudian masuk ke parlemen melalui pintu pemeriksaan yang sangat ketat. Lebih ketat dari pemeriksaan di bandara. Mungkin Pemerintah Inggris takut kalau ada penyusup masuk dan kemudian meledakan gedung parlemen yang pernah digunakan syuting film nya Jackie Chan, Shanghai Knight. 

Gegung Parlemen Inggris memang begitu menakjubkan terutama malam hari. Tak heran jika semua wisatawan yang berkunjung ke Inggris menjadikan Westminter sebagai salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi. Meskipun bentuknya sangat artistik dan sangat mirip dengan sebuah bangunan museum kuno yang antik, namun didalamnya menyimpan berbagai macam kegiatan yang sangat penting. Tak hanya tentang kebijakan luar negeri Inggris melainkan seminar-seminar seperti yang akan dihadiri oleh Parto tersebut.

Ruang diskusi dari House of Common terletak di lantai tiga. Namun ternyata di gedung tersebut tidak ada lift atau eskalator. Semuanya manual.

Sesampainya di ruang diskusi Parto melihat beberapa orang sudah hadir termasuk beberapa anggota senat dan anggota Parlemen. Parto tentu sangat antusias bisa berbicara di depan orang-orang penting tersebut. Selama ini dia lah yang mendengarkan ceramah orang-orang bule. 

Diskusi berlangsung sangat sederhana. Tidak ada makanan termasuk kue. Yang ada hanya segelas air putih dan itupun hanya untuk Parto. Peserta tidak mendapatkan apa-apa. Memang semua kegiatan di Inggris sangat basic. Seminar internasional pun biasanya cuma ada kue atau sandwich untuk makan siang. Sangat berbeda dengan Indonesia yang lebih banyak makannya daripada substansi acaranya. 


London, 1 Des. 2014 




Intuisi Ibu Tak Bisa Dibohongi (Bagian 3)

Setelah semalam menginap di rumah pamannya, pagi harinya Parto memutuskan untuk mengunjungi Ilyas, kakak sepupunya yang menjadi mandor bangunan di Tanah Lot. Ilyas adalah tangan kanannya Sofyan. Saat itu dia sedang mengerjakan sebuah resort dengan lapangan golf milik seorang miliyuner di Jakarta. Lapangan golf tersebut konon menjadi yang terbaik se Asia Tenggara. Letaknya di tepi Pantai Tanah Lot. 

Tapi Tanah Lot sangat jauh dari Denpasar. Dia tidak tahu jalan untuk bisa sampai disana. Uang nya juga mulai menipis. Lalu Parto memutuskan untuk mengatakan keinginannya tersebut kepada Narti.

"Bulek, aku kerja sama Mas Ilyas saja ya." Parto berkata kepada Narti sembari membantunya menyiapkan makanan di dapur. 

"Oiya udah kamu nanti ikut saja mobil proyeknya Pak de mu. Sebentar lagi sopirnya datang. Nanti aku bilang ke sopir biar kamu diantar ke tempatnya Ilyas." Narti berkata kepada Parto sambil menata piring yang ada di meja makan. 

Setiap hari Narti harus menyiapkan sarapan untuk pegawainya yang nge-kos di rumahnya. Rupanya beberapa pemuda yang tadi malam berbincang-bincang di mushala adalah para pegawainya Sofyan. Mereka selalu sarapan di rumahnya Sofyan sebelum pergi bekerja di proyek. Parto hari itu juga berkenalan dengan para pemuda tersebut. Ternyata mereka semua dari Banyuwangi. Bahkan si sopir mobil proyek, Taufik berasal dari Watu Jati. Namun baru kali ini Parto berkenalan dengan Taufik.

Setelah selesai sarapan mereka kemudian berangkat ke Tanah Lot menggunakan mobil. Ada lima orang termasuk sopir yang berangkat dengan mobil tersebut. Mereka tidak duduk diatas kursi ketika di mobil melainkan duduk diatas semen, cat dan barang-barang proyek lainnya.

Setelah lebih kurang dua jam mereka sampai di proyek. Ada tulisan besar terbuat dari semen di pintu masuk kawasan proyek. 
"Anda Memasuki Kawasan Proyek Bali Nirwana Resort." Parto membaca papan nama tersebut dalam hati.

Setelah beberapa menit memasuki kawasan, mobil berhenti di depan sebuah bangunan. Ada tulisan 49 di tembok depan. Parto melihat bangunan setengah jadi tersebut. Pintunya terbuat dari kayu jati dan atapnya dari ilalang yang sudah diawetkan. Beberapa tumpukan marmer dan granit terlihat di depan pintu. Lalu Parto dan rombongan masuk ke dalam. Di bagian belakang ternyata ada kolam renang dan bath tub yang sangat besar. 
Parto memperkirakan bangunan dua lantai tersebut mungkin harganya berkisar satu miliar rupiah lebih. 

"Wah, pasto hanya orang berduit yang bisa beli rumah ini..." Parto bergumam dalam hati.

"Eee...To, kapan kamu kesini. Apa mau kerja sama aku..?" Parto mendengar suara dari arah samping.  Suara itu begitu dikenalnya selama masih di Watu Jati. Ya itu adalah suaranya Ilyas, kakak sepupunya.

"Woi Mas, Gimana kabarnya? baik-baik saja kan? iya nih aku mau kerja nyari duit buat sekolah. Bapak ku sudah tidak sanggup membiayai aku lagi. Aku kerja apa saja mau.." Parto menyahut Ilyas sembari menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

"Ya udah kamu kerja mulai sekarang. Itu ada kayu-kayu yang harus diobat sebelum dicat." Ilyas menunjuk beberapa jendela kayu yang baru dipasang. Kayu-kayu tersebut harus digosok dengan penghalus sebelum dicat. Dan menggosoknya pun tidak hanya sekali. Bisa tiga atau empat kali.

Sejak saat itu Parto bekerja di Bali Nirwana Resort. Ada puluhan rumah dan hotel yang harus diselesaikan. Mungkin butuh tahunan untuk menyelesaikan proyek tersebut. 

(bersambung...) 


Jumat, 28 November 2014

Intuisi Ibu Tak Bisa Dibohongi (bagian 2)

Parto sampai di Pantai Kuta Bali sesaat setelah matahari terbit. Setelah turun dari mikrolet dia berjalan perlahan di Pantai Kuta yang masih sepi. Hanya beberapa orang berlarian kecil menyusuri pantai. Sesekali mereka mendekat ke air yang masuk ke pantai karena terdorong oleh gelombang laut.   

Parto merebahkan tubuhnya di pohon sembari melihat jauh ke tengah lautan seakan-akan dia memperhatikan sesuatu yang tak bisa dilewatkan. Padahal dia tidak melihat apa-apa. Hanya lautan lepas yang membentang tak terbatas. Pas punggungnya yang sudah sangat lusuh digunakan sebagai sandaran.

Sebenarnya Parto juga ingin sekali berlarian kecil namun badannya terasa lemas setelah 24 jam melakukan perjalanan dengan satu kali makan nasi. 

"Ahhh.....enaknya kalau bisa makan di pantai.." Tiba-tiba Parto merasa perutnya begitu kosong. Dilihatnya uang receh di dompetnya tinggal 11.500 rupiah. Parto berfikir uang itu masih bisa digunakan untuk makan tiga kali dan naik angkot sekali.

Parto melihat ke sekeliling namun tak terlihat satu pun orang yang berjualan makanan. Hanya papan selancar yang terlihat berdiri berjajar di beberapa tempat. Maklum hari masih terlalu pagi bagi para penjual makanan untuk keluar ke pantai.

Setelah matahari agak meninggi barulah beberapa penjual makanan mulai berdatangan. Banyak dari mereka yang sebenarnya berasal dari kampungnya Parto. Para penjual makanan itu biasanya istri dari para buruh bangunan. Mereka mencari uang tambahan untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

"Nasi sebungkus berapa bu?" Kata Parto kepada seorang ibu penjual makanan yang lewat di belakangnya.

"1500 rupiah dek sebungkus. Isinya nasi, telor dadar dan kering tempe." Sang penjual makanan berhenti di belakang Parto sembari meletakan nampan tempat nasi ke pasir.

Parto mengambil satu nasi dan memberikan uang pas kepada si penjual. Tak sabar dia ingin melahap lezatnya nasi bungkus yang pastinya sudah sangat ditunggu oleh usus-ususnya yang mulai protes karena tidak bekerja semalaman.

Hanya butuh beberapa menit Parto menghabiskan nasi bungkus tersebut karena dia memang sudah sangat kelaparan.

Setelah menghabiskan bungkusan Parto melihat ke sekeliling. Dia lalu berdiri dan beberapa kali kepalanya menengok ke kanan dan kekiri. Dia berjalan ke sisi barat beberapa meter lalu kembali lagi.

Lalu matanya tertuju kearah bangunan persegi empat tanpa atap yang berada di tepi jalan dekat pantai. Ada beberapa orang yang berada di tempat itu. Parto melihat mereka membasuh muka dan kepala mereka dengan air. Parto bergegas menuju ke bangunan tersebut lalu masuk kedalamnya.

Dia gunakan kedua tangannya untuk mengambil air yang mengalir dari sebuah pipa kecil. Ternyata tempat itu adalah sumber air alami. Parto terlihat beberapa kali meminum air tersebut. Sesekali dia basuh muka dan rambutnya agar tidak terlihat kusam.

Setelah selesai minum dia kembali lagi ke tempat semula. Dia berbaring untuk memejamkan mata. Matahari masih setengah beranjak siang namun Parto sudah mulai kelelahan karena tadi malam cuma tidur beberapa jam. 

Pantai Kuta sudah mulai ramai dikunjungi para bule. Ada juga beberapa bule lokal yang kulitnya justru cokelat kehitaman karena sering berjemur di pantai. Para pelancong tanah air juga tidak kalah banyak. Maklum Kuta adalah magnetnya Bali. Hampir semua wisatawan yang ke Bali selalu berkunjung ke pantai dengan panorama sunset yang indah ini.

Ketika sore tiba Kuta bisa berubah seperti pasar malam yang penuh sesak orang orang berlalu lalang atau hanya sekedar berbaring di pasir-pasir putih di sepanjang bibir pantai.

Agghhhh....Parto mulai membuka mata sembari menggeliat. Dia duduk perlahan sembari melihat matahari yang mulai condong kearah barat. Lalu Parto mengambil sebatang ranting kering yang berada tak jauh dari tempat duduknya. Lalu dia berdirikan ranting tersebut. Dia lihat bayangan ranting masih lebih pendek dari ranting aslinya yang berdiri.

Parto memperkirakan saat itu sekitar jam setengah tiga sore dan masih masuk waktu Dhuhur. Begitulah dia selalu memperkirakan waktu karena dia tidak punya jam tangan. 

Parto lalu kembali kearah bangunan persegi untuk mengambil air wudhu dan shalat disamping bangungan tersebut. Ada beberapa orang yang juga shalat di tempat itu. Para pengunjung juga tidak ada yang memperhatikan. Mungkin mereka sudah terbiasa.

Selesai shalat Parto mulai nampak sedikit bingung. Dia bingung mau kemana. Tak mungkin dia selamanya menggelandang di Pantai Kuta. Apalagi uangnya juga sudah mulai menipis. 
Dia hanya punya dua pilihan. Pergi ke Tanah Lot di daerah Tabanan untuk menemui kakak sepupunya, Ilyas atau pergi ke Denpasar untuk bermalam di rumah pamannya, Sofyan. 

Namun Parto juga belum yakin dengan kedua pilihan tersebut sampai akhirnya setelah maghrib dia memutuskan untuk ke Denpasar naik angkot ke rumah pamannya. Namun dia juga belum pernah kesana. Dia hanya dikasih tahu bahwa rumah pamannya berada di Jl. Pulau Misol, sebuah gang kecil disebelah Jl. Imam Bonjol. Dia hanya berpesan ke sopir angkot untuk menurunkannya sedekat mungkin dengan Pulau Misol. 

Setelah sekitar 1 jam perjalanan Parto diturunkan oleh si sopir angkot di pertigaan kecil. Dia melihat kearah sebuah rumah yang berada di ujung pojok jalan dan betul tertulis No. 1 Jl. Pulau Misol. Lalu dia menyusuri gang kecil tersebut sembari melihat ke kanan dan ke kiri. Siapa tahu dia mengenali sebuah wajah yang begitu lama tak dia jumpai. 

Setelah beberapa menit berjalan dia melihat sebuah mushala di sisi kiri jalan. Dia berhenti sebentar tepat di sebelah mushala tersebut. Terdengar beberapa orang bercakap-cakap dengan bahasa yang begitu akrab di telinga Parto. Ya mereka menggunakan bahasa Jawa. 

"Pasti ini rumahnya Paman Sofyan.." Parto meyakinkan dirinya sendiri sembari perlahan masuk ke halaman mushala.

"Apa ini benar rumahnya Pak Sofyan..??" Parto bertanya kepada beberapa laki-laki muda yang duduk-duduk di depan mushala.

"Benar mas, itu rumahnya. Orangnya juga ada didalam kok. Silahkan diketok pintunya" Kata salah satu dari mereka.

"Terima kasih mas." Kata Parto singkat. 

Dia bergegas menuju kearah rumah yang tidak terlalu besar. 

"Ee....Parto sama siapa kamu kesini..? Ayo masuk. Ga usah lewat situ. Lewat dapur saja." Seorang perempuan paruh baya menyapa Parto dengan senyuman yang mengembang. 

Dia adalah istri Sofyan. Parto biasa memanggilnya dengan Bulek Narti. Orangnya cantik kuning dan langsing. Dia juga sangat ramah. Dia mempersilahkan Parto duduk di meja makan sembari mengambil piring yang berada tak jauh dari meja makan.

"Sendirian bulek. Aku mau cari kerja..!" Parto tanpa basabasi menjelaskan maksud kedatangannya ke Bali.

"Ya udah kamu kerja sama Pak Lek saja. Dia kan banyak proyek. Jadi kamu bisa bantu-bantu." Kata Narti sambil bolak balik mengambil lauk pauk dan sayur di lemari makan untuk dipindahkan ke meja.

"Ayo To makan. Pasti kamu lapar kan. Makan seadanya aja. Tadi siang aku tidak masak banyak." Narti mempersilahkan Parto sambil duduk di kursi di depan Parto.

"Terima kasih Bulek." Parto yang terlihat agak malu mulai perlahan mengambil nasi dan lauk. Parto mengambil tahu goreng, sepotong ayam pedas dan beberapa kerupuk. Tak ketinggalan nasi putih yang terlihat sedikit menggunung di piring Parto.

Mereka berdua terus berbincang-bincang sampai Parto selesai makan. 

"Nanti malam kamu tidur disini saja. Pamanmu masih ada urusan di Lombok. Besok dia baru pulang." Kata Narti kepada Parto. 
"Terima kasih bulek." Parto pun setuju dengan tawaran buleknya.

Dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia akhirnya bisa tidur di kasur setelah semalam tidur di kursi bis.

(bersambung) 













Rabu, 26 November 2014

Intuisi Ibu Tak Bisa Dibohongi (Bagian I)

Juli 1997 merupakan babak baru kehidupan Parto karena dia baru saja lulus dari SMA di pesantrennya. Namun jika teman-temannya begitu semangat merayakan kelulusan sampai corat coret baju dan naik motor di jalan-jalan utama kecamatan, Parto justru meratapi nasibnya. Bukan karena dia disemprot habis-habisan oleh kepala sekolah beberapa hari yang lalu melainkan karena dia bingung harus kemana setelah lulus SMA.

Kini dia tidak lagi di Pesantren dan harus pulang ke rumah. Beberapa kali dia bertemu dengan teman-teman semasa SMA nya dulu untuk berbagi pikiran mengenai masa depan. 


Banyak dari teman-temannya yang bilang akan ke Bali untuk bekerja. Sangat umum di kalangan pemuda-pemuda desa di Banyuwangi lebih suka bekerja di Bali daripada harus melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Selain karena faktor ekonomi juga karena kuliah masih belum menjadi perhatian utama masyarakat. Banyak orang yang sebenarnya kaya namun tidak menyekolahkan anaknya ke jenjang universitas. Bagi sebagian besar masyarakat lebih baik anak setamat SMA bekerja di Bali atau menjadi TKI. Lebih nyata menghasilkan uang daripada kuliah yang belum tentu bisa bekerja. 


Parto menghadapi situasi yang sulit. Sebenarnya dia ingin sekali kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya atau Malang. Selain karena SPP nya per semester cuma 180 ribu dua daerah tersebut masih dekat dengan Banyuwangi. Namun dia tidak yakin apakah orang tuanya punya uang untuk menyekolahkannya. Dia tahu selama di pesantren orang tuanya sering terlambat mengirimkan uang bulanan. Padahal SPP di pesantren cuma 7000 rupiah per bulan. Kebutuhan per bulan juga tak lebih dari 50.000 rupiah. 


Kondisi itulah yang membuat Parto berfikir keras untuk menyelamatkan masa depannya. Dia jelas tidak mau kembali ke sawah dan menjadi petani seperti keluarga besarnya. Baginya menjadi petani tidak punya masa depan yang jelas. Apalagi sawah orang tuanya hanya seluas seperempat hektar. 


"Aku tidak mau terjerat dengan kepompong kemiskinan ini" Begitulah kira-kira yang ada di benak Parto setamat dari SMA.


Suatu hari sehabis shalat Dhuhur di rumah neneknya di Watu Jati, Parto tak mampu bangun dari sujudnya setelah salam. Bukan karena sakit melainkan dia menangis seharian memohon kepada Tuhan untuk diberikan jalan terang meneruskan hidupnya. 


Tuhan....Aku tahu aku bukan termasuk makhluk yang paling Engkau cintai namun jika boleh aku memohon kepadaMu berikan petunjuk kepadaku untuk melangkah demi meneruskan hidupku yang lebih baik." Begitu Parto berdoa sepanjang hari sampai waktu Ashar tiba.


Sehabis Maghrib Parto memutuskan untuk menemui ibunya, Jamilah.

"Mak, aku akan ke Semarang ke rumah nenek. Kalau boleh minta uang untuk jalan. Uang sekali jalan aja mak, mungkin 20 ribu. Besok pagi aku berangkat naik kereta dari Stasiun Rogojampi." Parto langsung mengatakan kebutuhannya sesaat dia mencium tangan Jamilah.

Seperti biasa Jamilah tidak pernah menawar karena dia yakin Parto punya alasan tepat untuk ke Semarang.


"Ya le, salam buat Mbah di Semarang dan hati-hati di jalan. Doaku selalu menyertaimu semoga kamu mendapat kebaikan dimanapun." Jamilah berpesan kepada Parto sembari mengeluarkan uang dari balik bajunya.


Pagi-pagi jam 5 Parto diantar oleh bapaknya ke terminal. Dia hanya membawa tas punggung kecil yang berisi satu baju dan celana serta sikat gigi. Parto melanjutkan perjalanan naik bis ke stasiun Rogojampi.


Namun dia ternyata tidak berhenti di stasiun melainkan di depan masjid yang berada sekitar 300 meter dari stasiun. Parto bersandar di tembok masjid depan. Rupanya dia menunggu matahari terbit untuk melakukan shalat Dhuha. Rupanya dia masih ingat aktifitas sehari-hari yang dilakukan ketika di pesantren dulu.


Setelah Shalat Dhuha Parto tidak langsung ke stasiun melainkan justru tidur-tiduran di selasar masjid. 


Lho, bukankah dia harus mengejar kereta pagi ke Surabaya jika ingin ke Semarang? Namun Parto justru tidur sampai Dhuhur dan shalat di masjid itu. Baru setelah Ashar dia berjalan ke stasiun. Namun tidak untuk membeli tiket melainkan untuk makan di warung tenda yang berada di depan stasiun. 


Setelah makan baru dia berjalan perlahan ke stasiun dan dilihatnya jam masih menunjukan pukul 5 sore. 


"Ahh masih lama nih," Kata Parto sembari melihat jadwal kereta Pandanwangi dari Stasiun Kalibaru ke Banyuwangi kota yang terjadwal jam 7 malam.


Ternyata Parto tidak naik kereta yang kearah barat melainkan justru yang ke timur. Dia ternyata sudah memutuskan untuk mengikuti teman-temannya yang bekerja di Bali. Namun dia harus berbohong kepada ibunya karena jika ijin kerja di Bali pasti tidak akan direstui.


Sebagai keluarga religious, orang tuanya Parto masih melihat Bali sebagai sebuah pulau yang tidak Islami karena didominasi oleh penganut Hindu. 


Parto memutuskan untuk mengambil kereta malam ke arah Banyuwangi untuk menghindari tiket. Jadi dia sengaja tidak membayar tiket karena pintu masuk ke peron tidak dijaga oleh petugas. Banyak stasiun-stasiun kecil yang tidak dijaga oleh petugas jadi orang bisa keluar masuk peron dan bahkan menyeberang rel.


Setelah kereta tiba Parto melihat masinis yang biasanya turun dari kereta. Dilihatnya si masinis turun dari gerbong paling belakang. Jadi Parto memutuskan untuk naik dari gerbong paling depan. Hal ini dia lakukan agar dia punya banyak waktu untuk berpindah-pindah gerbong ketika masinis mengecek tiket penumpang.


Selang beberapa menit berjalan ternyata si masinis sudah sampai di gerbong depan dimana Parto bersembunyi. Parto yang berdiri di sambungan kereta terlihat agak gugup. Dia tidak memandang si masinis untuk menutupi rasa gugupnya.


"Tiket-tiket...." Terdengar suara si masinis yang mulai mendekat. Parto mengambil nafas agak dalam untuk mengatur ritme saraf darahnya yang mulai tak beraturan.


"Saya tadi sudah bayar pak..!!" kata Parto sembari melihat si masinis. 


Si masinis tidak berkata apa-apa dan hanya berlalu. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya Parto belum membayar karcis dan memang tidak punya karcis. Si masinis berlalu karena tidak tahu siapa saja penumpang kereta yang sudah bayar cash diatas kereta kepadanya. Rute kereta jarak dekat biasanya memang dijadikan lahan empuk masinis kereta untuk mendapatkan uang haram dari penumpang gelap. Bahkan mungkin si masinis lebih suka penumpang tanpa karcis karena bisa mendapatkan ceperan.


Setelah sekitar 30 menit Parto sampai di Stasiun Banyuwangi. Selanjutnya Parto menuju ke Pelabuhan Ketapang, satu-satunya pelabuhan yang secara langsung menghubungkan pulau Jawa dan Bali. 


Namun Parto juga tidak langsung membeli tiket melainkan menuju mushala untuk melakukan shalat Maghrib dan Isya. Seperti biasa dia tidur-tiduran di mushala untuk menunggu tengah malam.


Setelah jam menunjukan pukul 11.45 menit dia berjalan menuju ke anjungan kapal. Dilihatnya ada satu kapal yang sudah mau berangkat. Dia berjalan perlahan-lahan kearah kapal yang jangkar pintunya sudah mulai terangkat dari anjungan.


Setelah dekat dia berlari masuk kapal dari pintu yang sebenarnya digunakan untuk keluar masuknya mobil. Tentu Parto masuk kapal tanpa harus beli tiket. Seperti biasa anjungan kapal tidak ada yang menjaga karena setelah petugas mengangkat jangkar langsung pergi. Dia tidak ingin berlama-lama disitu karena pasti sudah ngantuk berat. 


Itulah sebabnya Parto memutuskan untuk masuk kapal tengah malam biar dapat gratisan. 


Perjalanan naik kapal Fery membutuhkan waktu sekitar satu jam. Jadi ketika di Pelabuhan Gilimanuk Bali waktu sudah jam 2 pagi. 


Dari pelabuhan dia berjalan ke terminal bis terdekat yang jaraknya sekitar 1 km. Parto langsung masuk ke satu bis kecil. Dilihatnya beberapa penumpang dengan wajah lelah menunggu keberangkatan bis. 


Parto duduk di bagian belakang. Disandarkannya kepalanya ke jendela bisa yang sedikit terbuka. Dia berharap bisa tidur nyenyak dan bangun ketika bis sudah sampai esok hari di Terminal Ubung Bali.


(bersambung..)




 



Senin, 24 November 2014

Si Fasih Lebih Suka Jadi Ma'mum

Hari ini aku seperti biasa ke KBRI London untuk menyampaikan laporan keuangan mingguan dari Wisma Merdeka. Dan seperti biasa juga aku selalu punya janji dengan Alex Grainger, seorang doktor politik alumnus dari LSE pada jam 3.15 sore. Biasanya aku bertemu dengan Alex, begitu dia biasanya disapa di kantin Institute of Education, sebuah perguruan tinggi yang fokusnya pada masalah pendidikan. IoE merupakan saudara kandung dari SOAS karena kedua perguruan tinggi tersebut berada dibawah naungan University of London.

Jam sudah menunjukan pukul 2.30 sore ketika aku selesai mengurus laporan keuangan. Aku langsung menuju ruang kantin KBRI yang berada di basemen untuk makan siang. Seperti biasa Pak Sobirin, sang master chef asal Cirebon yang menyajikan makanan di kantin selalu ramah melayani para pelanggan. 

Aku lihat menunya hari itu Soto Sapi, Mi Goreng dan Calamari. Tak lupa tentunya nasi putih, sambal terasi dan krupuk. Harganya sangat terjangkau karena kalau aku beli disitu selalu dikasih harga stafnya KBRI alias cuma bayar 3.5 pound. Ha ha ha...lumayan lah meskipun bukan staf sungguhan tapi dapat diskon makan siang. 

Selesai makan aku langsung bergegas keluar kantin karena hanya punya waktu sekitar 30 menit untuk jalan kaki ke SOAS. Langkahku aku percepat karena aku tidak ingin Alex menunggu terlalu lama.

Aku susuri jalanan Oxford yang sangat terkenal di London karena di kanan kirinya berdiri outlet pakaian terkenal. Hampir semua orang Indonesia yang datang ke London selalu menyempatkan diri mampir ke Jl. Oxford. 

Aku biasanya juga sempat masuk ke beberapa outlet untuk window shopping dan olahraga namun hari itu aku putuskan untuk menyusuri jalanan untuk pedestrian yang berada di tengah jalan agar bisa cepat sampai di kampus. Jalanan pedestrian yang berada di tengah Jalan Oxford membelah jalanan menjadi dua arah. Bisa dibayangkan betapa macetnya ruas jalan ini di jam-jam sibuk karena satu jalur cuma muat untuk satu bis plus ruang sempit untuk sepeda. Jadi aku memutuskan untuk jalan kaki saja daripada naik bis namun harus terjebak macet. Belum lagi rambu-rambu lalu lintas yang sangat banyak sehingga menghambat laju bis kota London yang semuanya berwarna merah.


Jam sudah menunjukan pukul 3.20 ketika aku sampai di kantin IoE. Aku langsung masuk melalui pintu otomatis dan 'membuang mata' ke segala penjuru ruangan.

Alamak...berarti Alex hari ini tidak datang ke IoE!! gumamku dalam hati sembari melihat muka-muka bule yang tidak aku kenal semuanya.
Aku putuskan untuk menelepon Alex namun nomornya tidak aktif. Aku berfikir mungkin dia sedang di tempat favoritnya, British Library. 

Setelah beberapa kali menelepon tidak nyambung, aku memutuskan untuk ke tempat favoritku, perpustakaan SOAS. Namun aku membelokan langkahku menuju ke lantai basemen untuk mampir di mushala shalat ashar. 

Ruangan mushala tidak terlalu besar, berukuran sekitar 4 x 6 meter. Setiap kampus di Inggris memang menyediakan ruang untuk beribadah. Seringkali mahasiswa Muslim meminta untuk dipisahkan tempat ibadahnya dengan mahasiswa penganut agama lainnya. Jadi untuk mahasiswa Kristen, Hindu, Budha dan agama-agama lain biasanya punya tempat ibadah bersama.

Setelah mengambil wudhu dan masuk ke ruang mushala, ada seorang mahasiswa yang bertanya kepadaku.

Are you going to pray Ashar brother? 
Ya...jawabku singkat sambil menatap mukanya. Dari karakter wajahnya si mahasiswa ini sangat mungkin dari Timur Tengah atau Afrika Utara seperti Mesir dan Maroko.

Biasanya jika ada orang yang bertanya shalat aku selalu berfikir dia pasti mengajak ku untuk shalat berjamaah. Dan aku akan selalu reflek untuk iqamah untuk menghindari dia memaksaku menjadi imam.


Allahuakbar...Allahuakbar...terdengar di telingaku dua kata tersebut seperti bergaung namun dengan nada suara yang berbeda. Ternyata aku menyadari bahwa si mahasiswa tersebut juga mengumandangkan iqamah. 

Saat itu juga aku pegang pundaknya dan sedikit mendorongnya ke depan agar posisiku ada di belakang. Namun dia tenryata melakukan hal yang sama sembari menyelesaikan iqamahnya. 
Terpaksa aku maju ke depan dan aku dengar suara si mahasiswa tersebut begitu merdu dan sangat fasih.

Hari itu aku terpaksa menjadi imam. Ya, menjadi imam dari seseorang yang aku tidak tahu namanya namun aku sangat tahu bahwa bacaan iqamahnya begitu merdu dan sangat fasih.

Aku berharap hari itu Imam Syafi'i masih hidup untuk menyaksikan seorang warga negara Indonesia yang tidak begitu fasih menjadi imam. Aku ingin Imam Syafi'i menjadi saksi bahwa suatu saat ada seseorang yang fasih namun lebih suka menjadi makmum daripada menjadi imam.
Aku ingin Imam Syafi'i menyadari bahwa ijtihadnya yang mengatakan salah satu keistimewaan shalat berjamaah adalah ketika ada satu orang yang tidak sempurna shalatnya maka akan disempurnakan oleh jamaah yang lain.
Begitu juga aku hari itu......Aku sangat yakin bacaan si makmum tadi pasti akan menyempurnakan shalat Ashar ku di mushalla SOAS University of London.








Jumat, 06 April 2012

KERIKIL BUAH KARYA PARTO


Seri Novel 'Parto Da Gama, Kisah Santri Desa Menaklukan Dunia'

Hampir satu tahun Parto belajar di pesantren Darul Islam. Dia tinggal di Asrama Banyuwangi. Disebut dengan Banyuwangi karena asrama itu khusus untuk santri yang berasal dari Banyuwangi. Asrama-asrama tersebut sebenarnya punya nama asli dari bahasa Araba seperti Asrama Al Falah, Al Ghazali dan lain sebagainya. Namun santri lebih suka menamakan asrama-asrama tersebut berdasarkan asal usul santri yang tinggal di asarama tersebut. Ada Asrama Jember untuk santri dari daerah sekitar Jember, Asrama Jawa Tengah, Bali, Sumatera, Sulawesi dan beberapa daerah lain di Indonesia.

Parto tinggal di kamar berukuran 4x3 meter. Namun bukan untuk dirinya sendiri melainkan dia harus berbagi dengan delapan santri putra lainnya yang berasal dari berbagai daerah di Banyuwangi. Di kamar inilah kemudian Parto mengenal Muhammad Rois, seorang santri anak orang kaya dari Desa Mangir di sebelah barat Banyuwangi. Dia akrab dengan Rois karena teman sekelas di SMP Pesantren. Rois adalah santri yang cerdas dan meskipun kaya tapi dia tidak pernah hidup berfoya-foya. Parto tahu bahwa Rois anak orang kayak arena setiap kali menjenguk Rois, orang tuanya selalu membawa mobil sedan mewah dan membawa berbagai macam makanan. Rois kemudian membagi-bagikan  makanan tersebut kepada teman sekamarnya.

Tidak ada ruang untuk menyimpan barang karena setiap kamar hanya mempunyai lemari untuk menyimpan barang-barang santri seperti baju, kitab atau uang. Bentuk lemari lebih mirip locker untuk menyimpan dokumen karena terdiri dari kotak-kotak kecil. Tidak ada fasilitas lainnya di kamar tersebut. Begitu juga kamar-kamar lainnya. Oleh karena itu ada beberapa santri yang membawa meja kecil untuk mengaji. Kasur menjadi barang haram, bukan karena santri tidak boleh membawa melainkan itu bukan tradisi pesantren.

Dunia pesantren memang unik. Ada beberapa tradisi yang tidak boleh dilanggar oleh santri jika mereka ingin berhasil. Pertama, mereka tidak boleh pulang kerumah sebelum 40 hari sejak pertama kali mereka tinggal di pesantren. Kemudian kepulangan yang kedua adalah setahun sekali menjelang bulan Ramadhan sampai sehabis hari raya sebagai libur panjang pesantren. Namun santri yang merangkap sekolah umum seperti Parto dan Rois tidak bisa pulang karena libur sekolah berbeda dengan libur pesantren. Jadi mereka berdua sering tidak pulang pada liburan tersebut.

Tradisi yang kedua adalah tidak boleh malas dan tertarik dengan lawan karena bisa menumpulkan otak sehingga susah memahami pelajaran. Selain itu, santri juga dihimbau untuk tidak hidup mewah selama di pesantren. Mereka harus meniru kebiasaan Rasulullah. Oleh karena itu santri tidur di lantai beralaskan sarung atau sajadah. Ada beberapa santri yang membawa selimut namun pada umumnya santri lebih suka tidur memakai sarung beralaskan sajadah tanpa bantal.

Parto sering tidak kebagian tempat tidur dikamar sehingga dia sering tidur di teras masjid. Dengan kondisi kamar yang penuh sesak oleh santri, semua tempat di pesantren yang ada tulisan ‘sandal harap dilepas’ menjadi tempat tidur santri. Mereka bebas tidur dimana saja. Ada yang tidur didekat tempat wudhu atau koridor yang menghubungkan antar asrama atau masjid. Pemandangan malam hari di pesantren menjadi mengerikan karena santri tidur dimana-mana seperti mayat tertutup sarung, bergelimpangan di setiap sudut lantai bangunan pesantren dengan bunyi dengkuran yang beraneka ragam.

Maklum, Pesantren Darul Islam mempunyai sekitar 2000 santri yang terdiri dari 500 santri putri dan 1500 santri putra. Kondisi santri putri lebih nyaman karena jumlahnya tidak sebanyak santri putra. Di asrama putra, kamar yang tersedia tidak mampu menampung semua santri untuk tidur bersamaan. Jika kamar hanya diisi satu atau dua santri, maka pihak pesantren memerlukan lahan yang luas dan uang yang banyak untuk membangun asrama santri. Padahal Darul Islam adalah pesantren tradisional yang menarik iuran bulanan sangat murah kepada santri, yakni 10.000 rupiah. Meskipun murah, ada beberapa santri yang tidak membayar secara rutin karena alasan ekonomi.

Biasanya santri yang belum melunasi iuran bulanan akan dipindahkan ke sebuah asrama yang khusus menampung santri yang belum membayar iuran. Didepan asrama itu ada tulisan gudang santri. Artinya, siapa saja yang tinggal disitu berarti belum membayar iuran. Pesantren sengaja tidak mengeluarkan santri yang tidak membayar iuran melainkan hanya menegur mereka dengan menyediakan bangunan khusus.

Parto beberapa kali pernah menghuni gudang santri karena uang kirimannya telat. Pada waktu itu kakeknya sakit sehingga ibunya harus membelah bambu tiang dapur, mengambil uang tabungan untuk biaya berobat sang kakek. Meskipun pernah beberapa kali menginap di hotel prodeo pesantren, Parto begitu menikmati kehidupan pesantren terbesar di Kabupaten Banyuwangi tersebut. Baginya, kehidupan pesantren tidak jauh berbeda dengan kehidupannya di desa. Yang membedakan hanyalah para petugas pesantren yang umumnya santri senior. Mereka tidak segan-segan menghukum santri yang melanggar aturan pesantren.

Santri wajib shalat berjamaah, mengaji Al Quran sehabis maghrib dan sekolah diniyah untuk mengkaji kitab-kitab klasik tentang Islam. Di dunia pesantren, kitab klasik tersebut biasanya disebut dengan kitab kuning karena kebanyakan warna sampulnya berwarna kuning. Santri seperti Parto dan Rois tentu mempunyai kewajiban lebih berat. Mereka harus sekolah umum di pagi hari, kemudian sekolah agama/diniyah sore hari dan malamnya masih harus mengaji Al Quran dan kitab klasik. Selain itu, mereka juga akan dibangunkan sekitar jam 3 pagi untuk shalat tahajut. Rutinitas pesantren itulah yang mengingatkan Parto sama Laila, anaknya Kyai Harun yang tidak pernah bermain dengan anak-anak kampung karena sibuk belajar.  

Ah…dulu aku mengolok-olok Laila, kini aku masuk dalam dunianya. Gumam Parto dalam hati. Namun kini setidak-tidaknya dia bisa bersaing dengan Laila. Sayangnya semenjak di pesantren, Parto tidak tahu dimana Laila sekarang berada. Pesantren telah menutup semua informasi dunia luar. Namun Parto juga tidak pernah ingin mencari tahu dimana Laila saat ini. Baginya yang paling penting adalah menikmati kehidupan pesantren seperti dia dulu menikmati alam desa.

Yang agak berat bagi Parto Cuma bangun tengah malam untuk shalat tahajut. Setiap santri akan dibangunkan oleh petugas jaga malam untuk shalat tahajut. Para petugas tersebut biasanya membawa tongkat atau gayung berisi air untuk dicipratkan ke muka santri agar mereka cepat bangun. Bahkan ada beberapa petugas yang membawa tongkat khusus berupa kayu yang ujungnya dibuat melingkar mirip teken. Tongkat tersebut digunakan untuk membangunkan santri yang malas dengan cara menarik kaki, tangan atau lehernya keatas. Parto pernah ditarik gara-gara dia tidak cepat bangun.

Siapa saja yang melanggar kewajiban diatas, maka akan dihukum. Hukuman yang paling ringan adalah membaca Al Quran sebanyak satu juz di kantor petugas pesantren. Pelanggaran yang tergolong agak berat adalah pelanggaran yang dilakukan berulang-ulang. Biasanya santri tersebut akan disuruh untuk membersihkan tiga blok kamar mandi. Masing-masing blok terdiri dari sepuluh kamar mandi.

Santri juga tidak boleh keluar dari areal pesantren kecuali hari Jumat sebagai hari libur pesantren. Setiap Jumat biasanya Parto keluar untuk sekedar jalan-jalan di tepian sungai yang berada didekat pesantren. Untuk keperluan sehari-hari, dia bisa membelinya di koperasi pesantren. Namun koperasi tidak menyediakan rokok karena santri tidak diperbolehkan merokok. Selain itu, radio, televisi dan semua jenis hiburan lainnya menjadi barang haram yang tidak boleh dikonsumsi oleh santri. Selama di pesantren santri terisolasi dari dunia luar. Hal ini dimaksudkan agar santri bisa berkonsentrasi dalam menuntut ilmu. Santri hanya bisa mengetahui dunia luar dari koran yang disediakan oleh pesantren. Biasanya koran tersebut ditempel didepan masjid.

Parto dan santri lain juga harus masak sendiri di dapur umum yang disediakan oleh pesantren. Mereka tidak boleh memakai kompor minyak tanah untuk memasak agar bisa menghemat biaya. Umumnya para santri akan membentuk kelompok-kelompok masak yang terdiri dari santri sekamar. Parto bersama delapan santri lain sekamarnya membentuk satu kelompok masak. Setiap kelompok biasanya membayar iuran bulanan yang diserahkan kepada ketua kelompok masak untuk membeli kayu bakar, sayuran dan bumbu-bumbu masak. Setiap santri, termasuk Parto umumnya sudah mempunyai beras hasil dikiriman orang tua mereka yang menjenguk santri setiap bulannya.

Untuk petugas masak dilakukan secara bergiliran, yakni empat orang santri sekali masak. Jadi untuk masak pagi empat orang dan masak sore empat orang. Tidak ada makan siang karena makan tiga kali sehari termasuk dalam kategori hidup berfoya-foya dan dihindari oleh sebagian besar santri. Jadi ketika siang nyaris tidak ada santri yang memasak di dapur umum. Jadi dapur umum seperti pasar di pagi dan sore hari namun sangat lengang ketika siang karena santri lebih memilih untuk tidur siang atau mengaji Al Quran di masjid ketika merasa lapar.

Tradisi makan dengan piring dan sendok juga tidak berlaku di pesantren. Sendoknya santri adalah tangan mereka sedangkan sebagai ganti piring adalah nampan besar untuk makan bersama. Satu kelompok masak biasanya membeli nampan besar yang cukup untuk makan lima sampai sepuluh orang. Dapur umum juga tidak menyediakan meja makan. Jadi santri makan diatas nampan yang diletakan diatas tanah. Nasi dan sayur biasanya dihidangkan ketika masih sangat panas. Tidak ada waktu untuk menunggu dingin karena alat masak dan tungku nasinya sudah ditunggu oleh santri lain. Jika nasi dan sayur sudah siap, salah satu santri yang mendapat giliran memasak akan memanggil santri lainnya.

Ketika semua anggota masak sudah duduk berjongkok mengelilingi nampan dan nasi dan sayur sudah campur, artinya mereka sudah siap untuk balapan. Santri yang paling tahan panas tentu bisa kenyang sedangkan yang tidak tahan panas akan kebagian sedikit nasi dan lauk. Tradisi makan ala pesantren ini seperti karapan sapi. Siapa yang paling cepat maka dialah pemenangnya. Santri yang baru masuk pesantren biasanya tidak mampu menandingi kecepatan makan santri senior di kelompoknya.

Parto pernah merasa jengkel karena pada awal mula kedatangannya di pesantren selalu tidak bisa kenyang karena kalah adu cepat makan. Maka dia sering mengajak Rois untuk masak di malam hari sehabis isya untuk mengganjal perut yang terus bernyanyi. Rois kalah karena dia tidak mau tergesa-gesa. Toh jika masih lapar dia punya uang untuk beli jajan di koperasi.

Namun ternyata masak malam hari juga tidak aman dari gangguan para santri lain yang ingin makan gratis. Biasanya santri-santri tersebut akan gabung makan dan Parto bersama Rois tidak kuasa menolaknya. Jika menolak biasanya akan diejek sebagai orang pelit yang dibenci Rasulullah.

Ada satu santri yang menjadi pelanggan tetapnya Parto dan Rois ketika masak malam. Dia adalah Hadi, santri tetangga kamar yang sangat terkenal suka minta jatah makan gratis. Parto pun menjadi jengkel dan ingin memberi pelajaran kepada Hadi. Maka dia punya ide gila agar Hadi menjadi jera. Dia bersama Rois memilih krikil-krikil kecil yang banyak bertebaran di sekitar dapur. Lalu mencucinya sampai bersih. Ketika selesai masak dan nasi sudah berada diatas nampan, dia memasukan krikil-krikil kecil tersebut kedalam nasi. Dia sengaja memasukan kerikil hanya di beberapa sisi nampan aja jadi dia nanti tidak ikut memakan kerikil tersebut. Lalu kemudian dia memilih tempat yang agak gelap agar ketika Hadi datang dan gabung makan tidak bisa melihat kerikil-kerikil tersebut.

Hadi…..ayo makan, biasanya kamu kan jadi pelanggan tetap, ga lengkap nih makan tanpa kamu!! Parto memanggil Hadi yang sedang tidur-tiduran di teras masjid sambil membaca kitab kecil. Hadi pun sangat senang dipanggil Parto.

Wah……tidak biasanya nih kamu mengajak aku makan. Semoga Allah memberi rejeki dan ilmu yang tak terkira jumlahnya kepada saudaraku ini! Kata Hadi sambil menepuk-nepuk pundaknya Parto.

Amien..jawab Parto singkat. Dia lekas bergegas mengajak Hadi ke tempat yang dia sebut sebagai pengadilan terakhir Hadi. Disitu sudah menunggu Rois yang sedang mencicipi masakan diatas nampan.

Ayo wes sikaaatt!! Ajak Parto kepada Rois dan Hadi. Dan ketiga santri itupun kemudian dengan lahapnya menyantap nasi beserta sayur tumis kangkung ala Parto. Selang beberapa menit kemudian terdengar suara kruukkkk….! Parto bisa mendengar dengan jelas bahwa suara itu berasal dari mulutnya Hadi. Artinya kerikil tersebut telah masuk kedalam mulutnya Hadi. Tapi Hadi hanya diam saja seolah-olah dia hanya makan nasi.

Duh!….wah aku makan kerikil, sialan! Parto berpura-pura makan kerikil agar Hadi tidak curiga bahwa dia sedang dikerjai malam itu.

Aku juga makan kerikil nih….Rois menyahut Parto tapi tidak memperlihatkan kerikilnya. Hadi yang menyadari Parto dan Hadi makan kerikil tetap santai menghabiskan nasi yang ada dihadapannya meskipun berkali-kali terdengar suara kruk…kruk…dari dalam mulutnya. Mungkin Hadi berfikir berasnya tidak dibersihkan terlebih dahulu sehingga masih banyak kerikil yang masuk ke mulutnya. Hadi tetap tidak sadar dan tidak mencerikan bahwa dia telah makan banyak kerikil. Hadi tidak sadar bahwa malam itu dia telah makan 15 kerikil hasil karya Parto.



Rabu, 04 April 2012

ALAMKU SURGAKU


Seri Novel 'Parto Da Gama, Kisah Santri Desa Menaklukan Dunia'

Hidup di desa dengan kondisi alam yang asri, jauh dari kebisingan kota merupakan anugerah dari Tuhan yang harus dinikmati oleh siapapun. Mungkin itulah yang ada di otaknya Parto. Dia merasa bahwa masa kecilnya tidak lengkap jika belum bersentuhan dengan alam. Baginya dan juga sebagian besar anak-anak di Desa Watu Jati, sawah bukan hanya tempat bekerja orang dewasa melainkan juga tempat bermain anak-anak setelah mereka pulang dari sekolah. Sungai tidak hanya dijadikan tempat mandi dan menyuci melainkan juga menguji nyali anak-anak desa untuk berenang atau bermain petak umpet.

Sekolah bagi Parto hanyalah pelengkap hidup. Maka hidupnya sudah sangat lengkap jika sudah bisa membaca dan menulis. Baginya hidup yang sesungguhnya bukanlah di bangku sekolah melainkan di alam bebas. Karena disitulah dia merasa bebas berkreasi tanpa harus takut oleh gertakan guru atau dimarahi orang tua. Oleh karena itu banyak anak Desa Watu Jati yang selalu kreatif membuat permainan mereka sendiri. Tidak ada jenis mainan yang dibeli di toko karena alam bagaikan surga yang menyediakan semua jenis permainan.

Bambu, kulit kelapa atau Jeruk Bali bisa disulap jadi mobil. Pelepah pisang atau pohon singkong bisa diubah menjadi senapan. Jika ingin lebih seru, mereka menggunakan peluru dari  buah-buahan yang banyak terdapat di desa.  Daun nangka bisa dijadikan mahkota atau tangkai daun singkong dijadikan wayang. Seluruh wilayah desa juga bisa diubah menjadi arena berbagai jenis permainan ketangkasan dan olah kecerdasan seperti perang-perangan. Semuanya bisa didapatkan secara gratis.

Bahkan jika ingin menikmati hiburan seperti layar tancap pun Parto tidak perlu membayar. Layar tancap biasanya masuk Desa Watu Jati di musim panas dibawa oleh penjual jamu untuk menarik minat warga desa. Jadi penjual jamu bisa mendatangkan banyak warga karena ada tontonan gratis. Jadi meskipun banyak warga yang datang, namun sedikit dari mereka yang membeli jamu. Layar tancap versi penjual jamu tersebut selalu rutin datang ke desa setiap tahun. Bahkan satu tahun bisa dua sampai tiga kali. Parto dan teman-temannya biasanya menonton layar tancap sehabis mengaji di masjid. Sepulang dari nonton dia tidak pulang ke rumah melainkan tidur di masjid bersama teman-temannya.

Hiburan gratis lainnya adalah video, yakni pemutaran film yang menggunakan beberapa telivisi yang terhubung dengan mesin pemutar film. Tontonan video biasanya diadakan oleh keluarga kaya yang ada di desa ketika mereka sedang mempunyai hajatan pernikahan atau sunatan. Video diputar semalam suntuk mulai sehabis isya sampai menjelang matahari terbit. Televisi-telivisi tersebut biasanya dihadapkan ke penonton, tamu undangan dan keluarga yang mempunyai hajatan. Jadi penonton dan tamu undangan tidak bercampur jadi satu.

Parto dan anak-anak desa lainnya selalu membawa uang dan pisau kecil ketika menonton video. Uang digunakan untuk membeli jajan sedangkan pisau digunakan mencari daun pisang untuk dibuat alas tidur ketika mereka mengantuk. Namun biasanya Parto sudah persiapan agar tidak mengantuk ketika menonton video. Dia selalu tidur di siang hari sebelum malamnya menonton video. Jadi kakeknya biasanya sudah menduga jika Parto tidur siang, berarti nanti malam pasti ada acara yang tidak mau dilewatkan. Baginya video sangatlah berharga karena tidak setiap hari orang punya hajatan dan menyediakan video sebagai tontonan gratis. Itulah sebabnya Parto dan teman-temannya tidak hanya menonton video di desanya melainkan juga desa-desa tetangga yang lumayan jauh.

Parto tidak pernah membaca buku atau belajar kecuali didalam kelas. Dia merasa bahwa buku tidak menarik karena berisi angka-angka atau deretan abjad yang tidak menjawab keinginannya. Jika mendengar kata Matematika, Parto selalu mengernyitkan dahi pertanda tidak paham. Dia mengaji di masjid pun tidak ingin mengerti kandungan dalam Al Quran melainkan ingin berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Baginya, menjadi Islam itu cukup dengan hanya bisa membaca Al Quran dan menjalankan rukun Islam. Parto begitu alamiah seperti alam yang telah membentuk daya kreatifitasnya.  

Namun ada satu anak yang sangat dibenci oleh Parto. Laila, seorang anak perempuan teman kelasnya yang selalu menjadi juara kelas. Laila tidak pernah bermain bersama anak desa lainnya karena hari-harinya dihabiskan dirumah untuk belajar dan mengaji sehingga hafal dan paham semua pelajaran yang disampaikan oleh guru. Laila adalah seorang anak dari kyai pemangku masjid di Desa Watu Jati, Kyai Harun. Kyai Harun adalah panutan masyarakat desa karena anak-anak mereka selalu mengaji setiap malam di masjid dibawah bimbingan Kyai Harun.

Parto membenci Laila bukan karena kecerdasan dan prestasinya. Tetapi karena Jamilah, ibunya Parto sering sering membanding-bandingkan Parto dengan Laila. Dia menganggap bahwa Parto sisi dunia lainnya Laila. Parto hanyalah seorang anak yang selalu bermain sampai lupa belajar sedangkan Laila adalah seorang anak yang selalu belajar sampai lupa bermain. Hampir tiap hari Jamilah memarahi Parto.

‘Kamu itu sukanya main terus, tidak pernah belajar….kamu itu harus meniru Laila, anaknya Kyai Harun yang selalu rangking kelas!’

Kata-kata itu hampir setiap hari masuk ke telinga kanan Parto lalu mampir sebentar di otaknya sebelum keluar dari telinga sebelah kiri. Jika mendengar kata-kata tersebut Parto biasanya langsung ngeloyor keluar rumah untuk bermain bersama teman-temannya. Baginya Laila hanyalah anak rumahan yang tidak tahu bagaimana caranya menikmati keindahan desa.

Kenyataannya memang Parto tidak pernah menang dari Laila dalam hal prestasi kelas. Bahkan ketika ujian nasional kelas 6, Laila mendapatkan nilai tertinggi dan menjadi lulusan terbaik. Semua orang desa memujinya sebagai siswa yang harus diteladani oleh semua anak-anak desa. Para orang tua selalu berharap anak-anak mereka bisa menjadi bintang kelas dan mengalahkan Laila.

Sedangkan Parto berada diperingkat paling bawah dari 40 siswa. Tidak ada yang memperhatikan prestasi Parto karena mereka semua sudah tahu bahwa Partolah yang akan mendapatkan posisi juru kunci pada acara kelulusan siswa kelas 6 di sekolah tersebut. Toh dia tidak merasa kecewa karena baginya itu adalah prestasi yang sudah sangat baik mengingat malam sebelum ujian nasional dia menonton video semalam suntuk.

Kegemaran Parto bermain tersebut akhirnya menggiringnya ke pesantren. Orang tua Parto sudah mantap untuk mengungsikannya dari desa agar tidak bermain lagi. Maka dipilihlah pesantren dimana dulu bapaknya pernah nyantri yang letaknya sekitar 50km dari Desa Watu Jati. Pesantren tersebut dipilih karena selain menyediakan pengajian kitab-kitab klasik juga mempunyai sekolah umum mulai dari tingkat dasar sampai menengah atas.

Parto juga tidak keberatan dengan ide orang tuanya tersebut karena baginya pesantren sama saja dengan masjid. Dia bahkan bisa mempunyai lebih banyak teman dan tidak pernah dibandingkan lagi dengan Laila. Maka dia juga ingin secepatnya pergi ke pesantren tersebut. Hanya sang kakek, Dulkarim yang merasa agak keberatan jika Parto tinggal di pesantren karena masih terlalu kecil. Selain itu dia juga merasa kehilangan cucu yang paling disayanginya tersebut. Apalagi Parto harus tinggal di pesantren karena letak pesantren yang jauh dari desa.







   

Selasa, 03 April 2012

PARTO LARI TELANJANG


Seri 'Novel Parto Da Gama, Kisah Santri Desa Menaklukan Dunia'

Lima tahun setelah kelahiran anaknya, Jamilah dan Salam kini tinggal dirumah mereka sendiri yang letaknya bersebelahan dengan rumah orang tuanya. Salah satu ciri khas masyarakat di Desa Watu Jati adalah adanya kelompok-kelompok rumah yang berjajar saling berhadap-hadapan dengan satu mushalla dibagian tengahnya. Satu kelompok biasanya terdiri dari keluarga yang berdomisili di desa tersebut secara turun temurun. Besar kecilnya keluarga bisa dilihat dari banyaknya rumah yang ada di masing-masing kelompok.

Rumah Jamilah adalah rumah yang ketiga di jajaran kelompok rumahnya Dulkarim. Artinya, ada satu rumah lagi yang ada di kelompok tersebut, yakni rumah milik Aliyah, kakak perempuan Jamilah yang telah lebih dulu membangun rumah disamping kanan dari rumah Dulkarim. Aliyah tinggal bersama Kasan suaminya dan dua anak mereka. Anak sulungnya bernama Ilyas yang sudah sekolah kelas 5 Sekolah Dasar yang berada di desa dan satunya lagi anak perempuan bernama Alfiyah yang masih duduk di kelas 3 SD.

Jamilah dan Salam berhasil membangun rumah dari hasil jerih payah mereka membantu orang tua dan kadangkala menjadi buruh tani. Umumnya upahnya berupa gabah atau jenis panenan lainnya yang kemudian langsung dijual kepada tengkulak. Uang hasil menjual gabah tidak disimpan di bank karena memang tidak ada bank di sekitar Desa Watu Jati. Jamilah, seperti kebanyakan warga desa memang tidak mau menyimpang uang mereka di bank karena selain jauh, mereka juga meyakini bahwa bunga yang ditawarkan bank itu hukumnya haram.

Biasanya warga menyimpan uang di tiang-tiang rumah yang terbuat dari bambu. Caranya dengan melobangi bambu tepat dibawah ruas untuk memasukan uang kedalam bambu tersebut. Uang yang dimasukan terlebih dahulu dibungkus plastik agar tidak dimakan hewan pengerat yang biasanya memakan bambu kering. Pengambilan uang didasarkan pada kebutuhan mendesak dan jika sudah diambil, bambu tersebut tidak bisa digunakan untuk menyimpan uang lagi karena pengambilan uang adalah dengan cara melobangi ruas bambu bagian. Jika tidak ada keperluan, biasanya uang diambil setelah ruas bambu tersebut penuh. Atau mencari ruas bambu lain untuk dijadikan tabungan. Jadi kegemaran menabung masyarakat Desa Watu Jati bisa diamati dari berapa banyak lobang yang ada ditiang-tiang rumah mereka.

Jamilah selalu rajin menabung untuk masa depan Parto kecil. Dia bercita-cita mengirim Parto ke pesantren agar kelak dia bisa menjadi seorang kyai. Selain itu, biaya di pesantren sangat murah dan terjangkau oleh keluarga Jamilah yang terbilang miskin. 

Namun Parto kecil tidak pernah tidur dirumah orang tuanya. Dia lebih memilih tinggal bersama kakek dan neneknya. Parto tidak suka tidur bersama orang tuanya karena setiap malam lampu pijar dimatikan dengan alasan untuk menghemat minyak tanah. Parto sering ketakutan dan akhirnya sang kakek, Dulkarim meminta kepada Jamilah agar Parto diijinkan untuk tidur dirumahnya. Oleh karena itu semenjak ada Parto, rumah Dulkarim tidak pernah gelap gulita dimalam karena karena Dulkarim selalu menyalakan lampu pijar dirumah agar Parto tidak ketakutan. Karena kebiasaan itulah Parto lebih sering menghabiskan waktunya dirumah Dulkarim.

Parto beruntung punya kakek, Dulkarim yang sangat menyayanginya. Kemanapun dia pergi selalu teringat sama Parto dan seringkali mengajak Parto ke sawah untuk menemaninya bekerja atau ke sungai ketika mandi. Maklum, Parto adalah cucunya yang paling kecil. Anak-anak dari Aliyah sudah beranjak dewasa dan sering bermain sendiri.

Selain bekerja di sawah, Dulkarim juga biasa pergi ke kebun tebu milik pemerintah yang letaknya sekitar lima kilo meter dari desa. Dia pergi ke perkebunan tersebut setiap hari Sabtu untuk mencari daun tebu kering dengan berjalan kaki melintasi persawahan. Daun tebu tersebut untuk dibuat atap rumah dan dijual kepada orang yang membutuhkan. Warga desa menyebutnya dengan atap welit karena proses pembuatannya dengan cara dililit atau dijepit dengan bambu.

Setiap pulang Dulkarim selalu menyelipkan dua batang tebu disela-sela ikatan daun tebu kering tersebut. Kemudian dia membawa pulang dengan cara dipikul memakai bambu. Satu ikat di depan dan satunya lagi di belakang. Jadi ada satu batang tebu dimasing-masing ikatan tersebut. Tebu itu untuk oleh-oleh cucu kesayangannya, Parto. Jadi ketika Parto melihat ada ikatan daun tebu kering dibelakang rumah, dia sudah menduga bahwa didalamnya pasti terselip tebu yang dibawa oleh kakeknya.

Jika pergi kesawah, Dulkarim biasanya membawa keranjang yang dipikul untuk membawa hasil pertanian pulang. Tak ketinggalan Parto juga ikut kakeknya tersebut untuk bermain disawah. Karena letak sawah yang agak jauh dari rumah, biasanya Dulkarim memasukan Parto kedalam keranjang. Satu keranjang berisi Parto dan keranjang lainnya diisi dengan bahan makanan untuk dimakan disawah dan ditambahi batu agar bobotnya sama dengan Parto untuk menjaga keseimbangan.

Menjelang senja sehabis pulang dari sawah, Dulkarim sering mengajak Parto untuk mandi bersama-sama di sungai. Biasanya dia memanggul Parto sembari berenang untuk mencari kepiting sungai. Keluarga besar Dulkarim dan juga kebanyakan masyarakat Desa Watu Jati memang mengandalkan sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai dari mencuci, mandi dan buang air besar. Aliran sungai yang jernih tak menarik minat para penduduk untuk membangun kamar mandi. Jika pun ada sumur, biasanya untuk keperluan memasak dan air minum.

Suatu malam sehabis maghrib, Ilyas, kakak sepupu Parto mengajak Parto untuk buang air besar di sungai yang berada di samping rumahnya. Biasanya anak kecil jarang buang air besar pada malam hari. Bukan karena tidak ingin namun lebih karena rasa takut. Takut karena dimarahi orang tua atau takut dengan hantu. Namun kali ini Ilyas tak kuasa menahan mules perutnya namun tidak berani meminta orang tuanya untuk mengantarkannya ke sungai. Jadi dia mendatangi Parto dan memintanya dengan hati-hati agar tidak ada yang tahu bahwa malam itu mereka pergi ke sungai.

To…ayo ke sungai. Aku mau buang air besar, sudah ga tahan…! Pinta Ilyas sambil memegangi perutnya. Dia juga sudah membawa lampu senter, yakni lampu yang menggunakan tenaga baterai. Biasanya lampu ini dipakai oleh bapaknya untuk ronda desa atau ketika melakukan perjalanan jauh di malam hari.

'Ayo kang, aku juga mau pipis!' Parto menimpali.
Kemudian mereka berdua berangkat ke sungai dengan tergesa-gesa. Ilyas ingin cepat sampai di sungai yang memisahkan Desa Watu Jati dan persawahan. Jadi ada bangunan jembatan yang terbuat dari bambu untuk menghubungkan desa dengan persawahan. Orang-orang desa menyebut jembatan tersebut dengan ‘kretek’.  Disebut dengan kretek karena jika ada orang jalan diatasnya, akan ada bunyi kretek…kretek.

Ilyas mengajak Parto untuk turun ke sungai dibawah jembatan. Ilyas menyalakan lampu senter untuk mencari jalan dan menemukan tempat yang tepat untuk buang hajat. Tanpa pikir panjang mereka langsung membuka celana dan duduk diatas batu yang banyak terdapat di sungai. Parto yang agak ketakutan memilih untuk duduk diatas batu disamping Ilyas dan meminta Ilyas untuk terus menghidupkan lampu senter agar suasana tidak gelap gulita.

Selang beberapa detik, Parto dan Ilyas mendengar suara jembatan berbunyi.
Kretek….kretekkk…kreetteeeekkk…. suaranya begitu sangat jelas sekali terdengar oleh Parto dan Ilyas karena mereka memang duduk dibawah jembatan tersebut.

‘Kang, siapa itu yang berjalan diatas jembatan, coba kamu arahkan lampu senter itu kesana!’ pinta Parto sambil memegangi tangan Ilyas.

Sebelum Parto selesai berbicara, Ilyas sudah terlebih dahulu mengarahkan lampu senternya keatas jembatan karena penasaran siapa sebenarnya yang sedang berjalan diatas jembatan tersebut. Lalu mereka sangat kaget karena setelah lampu senter diarahkan tepat diatas jembatan tersebut Parto dan Ilyas tidak melihat seorangpun yang berjalan diatas jembatan tersebut.

‘Genderuwoooooo…………’ Parto dan Ilyas berteriak bersamaan sembari berlari keluar dari sungai tanpa memperhatikan lagi apakah mereka sudah memakai celana atau belum. Genderuwo adalah hantu yang digambarkan sebagai makhluk yang sangat besar dan menyeramkan.

‘Kakeeeekkkkk’……’bapaakkk’….’kakeeekkkk’…..’ibuu’…………..teriak mereka bersahut-sahutan sambil terus berlari menuju rumah dengan celana yang masih dibawah lutut. Jadi mereka berlari sekuat tenaga tetapi tidak bisa cepat karena celana mereka belum dinaikan sehingga pelarian mereka menuju rumah terasa sangat lama.

Orang tua Parto beserta keluarga besar Dulkarim yang masih berada di mushalla hanya tertawa melihat Parto dan Ilyas yang lari terbirit-birit terlebih lagi melihat dua anak kecil tersebut berlari dengan telanjang. Keluarga Dulkarim tahu bahwa dua anak kecil tersebut baru saja dari sungai namun mereka tidak mengetahui bahwa Parto dan Ilyas baru saja melihat hantu yang sangat menakutkan. Lalu mereka menceritakan tentang hantu tersebut namun Dulkarim malah tertawa terbahak-bahak. 

Memang biasanya orang dewasa hanya menanggapi cerita anak kecil dengan gurauan, apalagi tentang hantu. Jika tidak begitu, mereka justru malah menakut-nakuti anak kecil agar tidak keluyuran malam hari agar tidak digondol sama hantu. Oleh karena itu sangat jarang sekali anak kecil minta diantar ke sungai oleh orang tuanya dimalam hari dengan alasan ingin buang air. Lebih baik mereka menunggu sampai subuh dan baru buang air besar setelah matahari terbit.