Tampilkan postingan dengan label Agama dan Humanisne. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama dan Humanisne. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Desember 2010

BERPEGANG PADA PEPATAH ARAB

Ada banyak hal yang terkait dengan proses hidup manusia seperti keluarga, lingkungan dan tempat belajar. Jika kita mempunyai masalah di keluarga, biasanya kita berharap kepada teman akrab kita baik dari sekolah maupun teman bermain untuk bisa memecahkan persoalan tersebut. Namun sebaliknya ada juga yang mendapatkan masalah di tempat bermain maupun di sekolah lalu meminta orang tua atau saudara untuk membantu memecahkannya. 


Banyak yang tidak menyadari bahwa mereka sangat bergantung pada lingkungannya untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Bahkan sekarang banyak diantara para kaum muda yang mulai curhat-curhatan di dunia virtual karena banyaknya jejaring sosial di internet yang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia. Facebook dan Twitter seakan menjadi tempat segala-galanya bagi manusia karena mereka dengan 'rela' mengisahkan semua keluh kesahnya di jejaring sosial tersebut.  


Virtualisasi komunikasi tersebut semakin membutakan mata manusia bahwa seharusnya mereka kembali kepada diri sendiri untuk mengatasi persoalan. Tidak ada yang mampu menjawab maupun menyelesaikan semua persoalan selain diri mereka sendiri. Artinya, semakin sering mereka berkeluh kesah di facebook, artinya mereka semakin sulit memahami potensi dari diri mereka sendiri. 


Mungkin kita harus merenungi lagi sebuah pepatah Arab yang bisa kita gunakan untuk menemukan jati diri kita sendiri. Pepatah tersebut membedakan manusia berdasarkan beberapa kriteria yang sangat mudah dipahami oleh siapapun dan bisa dijadikan kunci keberhasilan manusia.


Yang pertama adalah tipe orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Itu adalah orang yang sombong. Maka jauhilah dia. Sekarang banyak orang yang sebenarnya tidak tahu tetapi mereka sok mengerti, sok berkuasa, sok memahami dan berlagak menjadi sumber dari kebenaran yang harus diikuti oleh semua manusia. Mereka biasanya menggunakan kedok agama untuk menakut-nakuti manusia. Selain itu ada juga yang menggunakan kekuasaan dan kekayaan untuk mengelabuhi orang lain untuk memuluskan tujuannya. 


Sesungguhnya manusia yang mengikuti kelompok ini adalah orang-orang yang tersesat karena kelompok ini menutup mata terhadap kebenaran yang ada diluar kelompok mereka. 


Kelompok yang kedua adalah  orang-orang yang tahu bahwa mereka adalah manusia yang tidak tahu. Mereka ini adalah orang bodoh yang harus diajari dan dibimbing. Meskipun mereka bodoh namun mereka tidak sombong karena mereka dengan sukarela mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang ingin belajar untuk menambah wawasan. Orang-orang ini harus dibimbing dan tidak boleh dibiarkan.


Kelompok yang ketiga adalah orang-orang yang tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya punya pengetahuan, maka mereka seperti orang yang sedang tertidur dan harus dibangunkan. Mereka mempunyai potensi untuk bisa mengubah keadaaan menjadi lebih baik.


Yang terakhir adalah orang yang paling baik, yakni orang yang mengetahui bahwa dia mempunyai pengetahuan dan bisa memaksimalkan pengetahuan tersebut untuk keperluan dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Orang-orang jenis ini harus diikuti karena akan menuntun kita kearah yang lebih baik. 





HUMANISME ARTHUR GISH

Arthur Gish terlahir di Lancaster, negara bagian Pensylvania USA. Dia terlahir sebagai seorang Kristiani dan saat ini menjadi anggota Christian Peacemakers Team (CPT) yang aktif dlm kampanye anti kekerasaan dan penindasan. salah satu aktifitasnya sekarang adalah membela Muslim Palestina yg berada dibawah kolonialisme Israel.

tentu kehadiran orang-orang ‘bule’ spt Gish ini bisa mengurangi keganasan mesin-mesin perang Israel yang tiap harinya membidik warga Palestina apalagi kalau sedang membawa kamera atau video shooting. keberadaan Gish dan ‘bule-bule’ penentang kolonialisme Israel di Palestina bukannya tanpa ancaman. sudah ada beberapa nyawa ‘non palestina’ melayang oleh bedhil dan meriamnya Israel.

Contohnya, RIchele Cory (USA) tewas terlindas oleh Tank Israel ketika menghadang iring-iringan tank Zionis, Tom Handel (UK) harus merelakan kepalanya tertembus peluru tentara Israel ketika sedang duduk dan bersantai di dekat pos penjagaan Israel, dan James Miller (UK) yang tewas ketika sedang meliput penindasan oleh satu-satunya agresor di dunia modern tsb. kalau ‘bule’ saja diperlakukan seperti ini, bisa dibayangkan betapa murahnya nyawa orang-orang Palestina.

Mungkin inilah yang menjadi alasan orang-orang seperti Gish untuk rela mengorbankan nyawanya demi melindungi warga Palestina. Pemikiran-pemikiran sektarian tentang keagamaan telah runtuh oleh urgensitas nilai-nilai humanis. tetapi sayangnya, tak banyak yang dilakukan oleh orang-orang Islam sendiri. Mungkinkah mereka terlalu sibuk dengan urusan Sorga sehingga ini mengakibatkan beberapa orang Islam menjadi oportunis? dus, apakah kemudian bisa dikatakan bahwa Sorga telah mengakibatkan pemikiran orang tentang pentingnya nilai-nilai humanisme menjadi terkesampingkan?

so, apakah kita sebagai Muslim masih merasa lebih baik dari Gish, Randel, Cory, Miller dan orang-orang yang merelakan nyawanya demi kepentingan Muslim? bukankah sudah banyak nyawa yang telah dikorbankan? tetapi kenapa ini belum meluluhkan sikap oportunis kita sebagai makhluk Tuhan?

disarikan dari ‘kompas’ dan film ‘the Killing Zone’

PEREMPUAN DAN KEKUASAAN

saya tidak tahu mengapa ada gerakan semacam feminisme yang mati-matian membela perempuan. juga belum bisa memahami kenapa ‘isu gender’ selalu didengung-dengungkan tidak saja oleh perempuan melainkan juga laki-laki. tidak kah mereka melihat bahwa sudah banyak pemimpin di dunia modern ini yang roboh tidak oleh tembakan meriam atau bedhil, melainkan oleh perempuan. di level lebih rendah, para tentara yang selalu siap menancapkan bayonet dan melepaskan pelurunya ke musuh pun dibuat bertekuk lutut oleh perempuan. sudah banyak kasus yang kemudian membawa tersangka ke pengadilan. bukankah ini suatu bentuk ‘tersembunyi’ kekuasaan dari perempuan???

kemudian, apa pentingnya gender dan feminisme? karena bagi saya gerakan ini justru mengindikasikan kegagapan perempuan dan pembelanya tentang ke-tak siapan mereka menguasai laki-laki? seharusnya yang perlu ditekankan adalah meningkatkan peran aktif dari perempuan di dunia nyata. dan bagi saya Kartini masih lebih bagus daripada Carol Smart dan penggila feminisme lainnya karena Kartini mengajari bagaimana perempuan bisa hidup mandiri sedangkan fenimisme dan gender cenderung mengajari perempuan untuk hanya menuntut hak.

padahal, hak bisa didapatkan dengan satu syarat…….kekuasaan. dan sudah nyata bahwa perempuan mempunyai kekuasaan sejak Adam dilahirkan di Surga.bahkan nabi pun masih menikah dg perempuan Aisyah, Yesus pun terlahir dari Si Perawan Maria, dan Sidharta Gautama terlahir dari perempuan bangsawan. dus, apakah pilihan para biksu untuk tidak menikah adalah ketakutan mereka akan pengaruh kekuasaan perempuan?? wallahu alam bis sawab karena yang bisa menjawab semua itu adalah perempuan.

Sabtu, 27 November 2010

Ayam Tua dan Politisi Busuk

Ayam tua
Ceritanya tentang sebuah peternakan ayam. Disana ada 25 Ayam betina dan 1 ayam jago yang umurnya sudah tua sekali. Karena merasa bahwa ayam jago yang sudah tua tadi sudah melewati masa suburnya, sipemilik peternakan memutuskan untuk membeli 1 ayam jago lagi yang masih muda. Tentu saja hal ini membuat si Ayam jago tua menjadi merasa tersaingi. Lalu terjadi percakapan seperti ini :

Si Tua : "Eh, kamu jangan serakah ya. Ayam betinanya kan ada 25. Kamu boleh ambil yang 15 sedang aku yang 10 ekor."
Si Muda: "Tidak bisa. Kamu kan sudah tua dan loyo. Pokoknya semua buat aku aja."
Si tua : "Kalau begitu mendingan kita lomba saja. Siapa yang menang boleh ambil semua ayam betina yang ada di peternakan ayam ini. Yang kalah tidak mendapat satu ekor pun."
Si Muda: "Boleh saja! Mau lomba apa ?"
Si Tua : "Lomba lari."
Si Muda: "Ok."
Si Tua : "Lombanya 100M. tapi karena aku sudah tua, aku minta untuk lari dulu di depanmu 10 meter."
Si Muda: "Boleh." (dengan penuh keyakinan).

Kemudian lomba lari dimulai. Ayam jago tua lari dulu 10 meter baru kemudian ayam jago yang muda lari menyusul dengan kecepatan dua kali lipat. Eh, baru kurang 1 meter menyusul, si ayam jago muda ditembak langsung oleh pemilik peternakan. Apa yang di katakan pemilik peternakan tersebut?

Pemilik : "Kurang ajar. Ini ayam jago-homo ke sepuluh yang bulan ini aku beli. Sukanya kejar kejar si jago tua saja."
itulah kira-kira pertarungan para politisi di Senayan. sebenarnya yang dipertaruhkan bukanlah kepentingan rakyat melainkan hanya ditujukan untuk memenuhi kepentingan pribadi. uang, kekuasaan, jabatan dan bahkan mungkin juga perempuan seperti yang menimpa Al Amin Nasution.
celakanya, politisi muda dan yang baru pertama kali merasakan sengitnya persaingan tersebut masih terlalu naif untuk bermain kejar-kejaran. sehingga ketika para politisi tersebut ditantang oleh politisi yang sudah terlalu busuk (yang sudah lama di senayan) terbawa dalam irama permainannya. pada akhirnya mereka tidak mampu bersaing dan malah tersingkir. ada juga yang karena gagap akhirnya malah terjerembab sendiri.
lalu, pernahkah kita berfikir ayam-ayam tersebut bisa menyelesaikan permasalahan kita? haruskah kita menembak semua ayam tersebut karena sebetulnya kitalah yang memiliki kekuasaan karena mereka hanya mewakili kita.
i am doubt about that
De Lionine
lancaster

Perempuan Tenggelam dan Santri Salaf

Parto, seorang santri di sebuah pesantren salaf di Banyuwangi terkenal sebagai santri SSK. SSK singkatan dari 'Santri Sobo Kali' yang dalam bahasa indonesianya berarti santri yang suka keluyuran di sungai. memang banyak sekali kebiasaan-kebiasaan 'nyeleneh' santri salah mulai yg suka mandi di sungai, mencari ikan tengah malam, makan ketela, puasa mutih (hanya makan nasi putih untuk buka dan sahur) 40 hari, puasa 3 thn, dll. memang, pesantren tempat Parto mengkaji islam dari kitab-kitab klasik tersebut dekat dengan Sungai Setail, sebuah sungai besar yang bermuara di Selat Bali.

Parto suka pergi ke sungai bukan meniru Nabi Khidir, seorang Nabi (bukan Rasul) yang diceritakan selalu menyusuri sungai dan diisukan masih hidup sampai sekarang, melainkan untuk mencari kayu bakar untuk memasak. maklum di pesantren salaf tidak ada kompor karena alat masak boros minyak tersebut cenderung diharamkan oleh kyai karena boros duit. berbekal sebilah badik, Parto mencari ranting kering dengan masuk ke rerimbunan bambu bambu atau memanjat kelapa yang tumbuh subur di sepanjang sungai.
biasanya Parto mencari kayu bakar dengan Sidiq, santri dekhil yang terkenal penurut dengan santri senior. meskipun demikian, dia adalah cermin santri tulen karena selalu mengaji dan mempunyai kitab kuning yang banyak. sangat berbeda dengan Parto yang tak pernah mengaji dan suka keluyuran. bahkan beberapa kali Parto terpergok melihat layar tancap oleh keamanan pesantren. tetapi toh security bersarung dan berkopiah tersebut tak bisa berbuat banyak untuk menghukum Parto. satu hal yang membuat security bersarung itu tak berkutik menghadapi Parto adalah karena mereka selalu minta Parto untuk mencukur rambutnya, tentu dengan tanpa bayaran. Padahal nonton film adalah pelanggaran berat. kalau di Hukum Pidana Indonesia, jenis pelanggaran tersebut bisa sekelas kasusnya Al Amin Nasution yang mengorupsi duit negara sekaligus memesan perempuan.

suatu saat, Parto bersama Sidiq pergi ke sungai untuk mencari kayu bakar. kali ini dia masuk di rerimbunan bambu di pinggir sungai yang dekat dengan tempat menyeberang. tidak ada jembatan sehingga orang yang menyeberang harus masuk sungai dan melawan arus untuk sampai ke tepian sungai di seberang. Sidiq yang berada dibawah bertugas menggumpulkan ranting-ranting bambu kering tersebut.

pada saat mereka hendak pulang, ada seorang perempuan muda yang bermaksud menyeberang sungai. Sidiq sebagai santri tulen tentu tak berani memandang muka apalagi tubuh perempuan itu karena dia ingat perkataan Al Gazali, filsuf terbesar dalam sejarah Islam, yang mengatakan bahwa ada tiga hal yang bisa menyebabkan pencari ilmu (santri) gagal yaitu uang, kekuasaan, dan perempuan.
sedangkan Parto yang sering keluar pesantren tentu nyantai aja ketika melihat perempuan tersebut. tapi toh kedua santri yang mempunyai cara pandang yang berbeda tersebut acuh terhadap perempuan tersebut.
beberapa menit kemudian si perempuan menyeberang sungai dengan menjinjing roknya agak keatas. perlahan dia mulai menyeberang dengan melawan arus yang cukup deras. tetapi ketika di tengah sungai, dia terpeleset dan hilang keseimbangan. seketika itu juga dia gugup dan melambaikan tangan minta tolong.

tolong kang, tolong kang....!!! teriak si perempuan. 'kang' adalah sebutan umum bagi santri putra di pesantren salaf. orang-orang desa pun selalu memanggil 'kang' kepada setiap santri.

seketika itu juga Parto melompat ke sungai untuk menolong si perempuan tersebut. tetapi karena perempuan itu gugup, sehingga tenggelamnya sgt cepat dan membuat dia pingsang. dengan basah kuyup Parto menggendong perempuan tersebut. sesampainya di pinggir sungai, si Sidiq yang sedari tadi cuma bengong menghampiri Parto.

sebelum berhasil mendekat, si Parto mencium perempuan yang pingsan tersebut dengan bermaksud memberi nafas buatan biar dia cepat sadar. Sidiq semakin tak mengerti dan berkata dengan keras sambil setengah berteriak kepada Parto.
To..., kamu ini gimana, dia kan bukan muhrim kamu?
kamu tidak boleh menyentuhnya, apalagi menciumnya!!
ini haram hukumnya To!!! sambil mengacungkan jari tangannya ke Parto

si Parto kemudian menekan perut si perempuan tersebut sampai akhirnya si perempuan naas tersebut sadar.
setelah perempuan itu sadar, Parto berlalu untuk mengambil ranting kering dan mengacuhkan Sidiq yang masih ngomel-ngomel ga karuan. kadang Sidiq juga mengutip ayat al quran dan fatwa ulama yang mengharamkan menyentuh atau mencium perempuan yang bukan muhrimnya.

Parto tidak menanggapi dan malah menyuruh Sidiq membantu membawakan ranting kering. ini tentu membuat Sidiq marah besar.
sambil berjalan pulang, Sidiq terus menghujani Parto dengan pertanyaan serupa dan kadangkala mengatakan kalau Parto bukan santri tulen karena menentang ajaran agama di pesantren. umpatan-umpatan Sidiq ke Parto ini berlangsung sangat lama sampai akhirnya mereka sampai di pesantren. meskipun mengumpat dan memaki, tapi toh kedua santri ini tidak berkelahi dan saling membenci. memang perkelahian di pesantren sgt dilarang dan bagi santri yang melanggar bisa dikeluarkan dari pesantren.
sampai di dapur, mereka meletakan ranting kering tersebut dan si Sidiq menanyai Parto,
To..apa dasar kamu menggendong dan mencium perempuan tadi?
Parto yang memang kelihatan capek hanya menjawab singkat.
Kamu ini gimana sih Diq!!, 'wong aku yang menolong aja udah lupa kepada perempuan tadi setelah dia tersadar, tapi kamu masih mengingat-ingat ciumanku ke dia. padahal aku sudah melupakan apa yang aku lakukan setelah kita meninggalkan sungai.'
berarti yang salah itu dalam pikiranmu!! sambil menunjukan jarinya ke kening Sidiq.
'bagiku yang penting gimana perempuan itu bisa selamat, bukan menciumnya!'
kalau kita ga bisa menolong karena alasan bukan muhrim, pasti perempuan tersebut sudah mati tenggelam. padahal kita tahu saat kejadian. jadi kita bisa dikatakan membiarkan dia mati.
kamu tahu kan dosa orang yang membunuh?

Aurat dan nafsu itu hanya ada dalam pikiran manusia. jadi tidak bisa diukur dari bentuk dan jenis baju yang menutupi tubuh manusia. jika orang masih punya hasrat ketika melihat perempuan berjilbab, berarti definisi aurat dari orang yang berhasrat tersebut masih terbuka. sebaliknya ketika ada seseorang yang tak bernafsu dengan melihat pusar perempuan, maka sebetulnya definisi aurat dari orang tersebut telah tertutup.
untungnya, si Parto sekarang sedang kuliah di UK dimana pusar perempuan seperti kue kuping gajah yang menurut banyak 'laki-laki gagap sangat' menarik untuk dicicipi. dia berfikir tentang sahabatnya, Sidiq yang 15 tahun lalu bertengkar dengannya karena perempuan tenggelam,
'andai aja Sidiq disini, mungkin dia selalu mengucapkan astaghfirullah sambil terus menutupi matanya.' bisa dikatakan orang gila dia ya....!!
untung saja dia masih di Jogja, sebuah tempat yg masih bisa menyelamatkan matanya. meskipun saya tahu mungkin dunia nyata di jogja tak sebaik tampilan fisiknya.

renungan,
Ultah 28/08/08

Ulama Mabuk dan Penjahat Insyaf 01

konon ada seorang ulama yang ditawan oleh sekelompok penjahat. Pimpinan penjahat tersebut mengatakan ke ulama bahwa kalau dia ingin dibebaskan, ulama tersebut harus memilih tiga tawaran dari kawanan penjahat tersebut.

sang kepala perampok berkata;
'Wahai ulama yang shalih, ...mana yang akan kamu pilih dari ketiga tawaran ini yang bisa menyelematakan nyawamu?" semuanya telah siap didepanmu dan kamu harus memilihnya dengan segera.

pertama, ada sebotol anggur. jika ingin selamat, kamu harus menghabiskan sebotol minuman beralkohol tersebut.
kedua, ada seorang wanita cantik dimana kamu harus melakukan hubungan seksual jika tidak ingin kepalamu aku penggal.
atau, kamu bersedia membunuh seorang anak buahku yang terikat tangannya. dia telah berkhianat kepadaku.

sang ulama bingung karena ketiga pilihan itu sangat berat. dia ingat salah satu firman tuhan bahwa dosa orang yang membunuh tidak akan diampuni oleh tuhan. jika berzina, maka dia harus dirajam sampai mati..ini sama saja dengan terbebas dari gerombolan penjahat tapi bersiap mati dilempari batu. sampai akhirnya dia berfikir bahwa yang paling ringan dosanya adalah meminum anggur.

'ya udah saya memilih untuk meminum anggur!' kata sang ulama

silakan...tapi kamu harus meminum sebotol anggur itu sampai habis. kalau tidak habis, akan aku penggal kepalamu. jawab si kepala penjahat.

"baiklah," kemudian si ulama meminum anggur segelas demi segelas, tetapi karena dia tak terbiasa minum minuman beralkohol, akhirnya dia merasa pusing setelah menghabiskan setengah botol anggur.

"cepat habiskan, atau aku penggal kepalamu.." gertak si penjahat sambil menghunus pedang.

karena takut mati, akhirnya sang ulama terus meminum anggur sambil merasakan kepalanya yang semakin berat. sampai akhirnya dia tidak bisa membedakan mana yang botol anggur, wanita cantik, dan anak buah penjahat yang berkianat.
pertama, dia memegang tangan si wanita tersebut yang dianggapnya sebotol anggur. karena teler, dia marah karena anggurnya tidak keluar dari tangan si wanita, dan dia merobek-robek baju wanita itu. kemudian dia mulai membelai seluruh tubuh wanita yang halus tersebut. dari sinilah kemudian birahinya keluar dan mulai menciumi si wanita sampai akhirnya dia melakukan hubungan seksual.

"astaghfirullah....!! ampunilah dosa-dosaku" kata si ulama itu setengah sadar setelah melakukan zina dengan si wanita tadi. dia tahu bahwa hukuman org yang berzina adalah rajam sampai mati. dia panik, dilihatnya kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang tahu. kemudian samar-samar dia melihat anak buah penjahat yang berkianat tadi duduk dengan tangan terikat. secepatnya dia mengambil pedang yang dipegang oleh kepala penjahat dan menusuk anak buah penjahat itu sampai mati. tujuannya agar dia tidak diketahui telah berzina.

kemudian sang kepala penjahat memerintahkan anak buahnya yang lain untuk membunuh si ulama tersebut.

beberapa tahun kemudian, sang penjahat terkena penyakit parah yang mengancam hidupnya. dia masih ingat ketika si ulama minta ampun kepada tuhan. karena itulah dia memutuskan untuk berlajar agama sebelum meninggal dan mencari seorang ahli agama. dia pergi ke arah timur dan bertanya kepada seseorang di jalan.

"wahai hamba tuhan, tahukan kamu dimana aku bisa bertobat dan belajar ilmu agama?"

"teruskan jalanmu ke timur, niscaya kamu akan bertemu dengan seorang ahli agama."

akhirnya si penjahat terebut meneruskan langkahnya ketimur sampai berhari-hari. karena kelelahan dan penyakitnya semakin parah, si penjahat tadi meninggal ditengah perjalanan.

ketika di akhirat, si penjahat bertemu dengan sang ulama yang dia bunuh ketika mereka menghadap malaikat untuk ditanyai perbuatan baik dan buruk.

pertama sang malaikat menyanyai ulama.

"wahai hamba tuhan, kenapa kamu ada disini dan apa yang kamu harapkan?"

"saya mati dibunuh oleh si penjahat itu karena saya meminum anggur, berzina dan membunuh orang. tetapi saya melakukan kebaikan di sisa umur saya. surga manakah yang pantas untuk ku wahai malaikat!"

"kamu tidak pantas ke surga karena ketiga jenis perbuatanmu itu telah menghilangkan pahala selama kamu hidup, maka kamu masuk neraka.." sang malaikat menjawab

kemudian si malaikat bertanya ke penjahat,
"wahai penjahat, kenapa kamu disini dan apa maumu?"

"wahai sang malaikat, saya hanyalah hamba tuhan yang banyak dosa, sudah banyak orang yang susah karena ulahku. jika si ulama yang aku bunuh itu saja sudah pasti ker neraka, lalu....neraka manakah yang cocok untuk aku ini?"

kemudian malaikat mengatakan, baiklah wahai hamba tuhan yang bertobat, kamu pantas ke sorga karena setelah aku ukur jarak dimana kamu mati dengan rumahmu dan rumah sang ahli agama, jarak ketika kamu mati lebih dekat ke rumah ahli agama. bersukurlah atas usahamu.

itulah gambaran antara dua orang dengan orientasi dan kehidupan yang berbeda. saya rasa cerita ini masih relevan sampai sekarang meskipun harus ditarik ke konteks yang berbeda.

(bersambung......)
Delionine, 1 August 2008

Ulama Mabuk dan Penjahat Insyaf

Ulama dan penjahat di episode sebelumnya hanya merupakan kiasan betapa agama tidak harus dipahami secara sempit.
Agama seperti yang dikatakan John Rawls berusaha membius penganutnya dengan dogma dan tentunya dogma agama tidak pernah lepas dari penafsir yang dalam hal ini manusia. Oleh sebab itu kemudian muncul sekte-sekte agama baru mulai dari sekte agama yang berusaha memurnikan 'agama' menurut keyakinan mereka seperti Paham Wahabi sampai sekte agama yang sangat fleksibel.
Pemurnian 'agama' seperti ini menurut saya sangat menyesatkan karena cenderung mengkooptasi pemikiran manusia dalam ranah ketuhanan dan orientasi kepada akhirat yang berlebihan. sehingga dalam pemikiran mereka tidak ada yang lebih berharga daripada sorga dan neraka. oleh karena itu nilai-nilai humanisme dari agama itu cenderung dihilangkan karena manusia terlalu sibuk dengan ketauhidan dan kesakralan agama. hasilnya, muncul penganut agama yang oportunis!!
padahal agama diturunkan oleh Tuhan oleh manusia untuk menjadi menyempurnakan perilaku manusia yang buas yang dalam bahasa Hobbes disebut Homo Homini Lupus. Agama hadir untuk mencegah manusia memangsa temannya sendiri dan 'memangsa' dalam arti yang luas harus dipahami secara menyeluruh baik berupa tindakan yang agresif seperti 'perang' atau membiarkan terjadinya kelaparan, penjajahan atau kekejaman.
Bangsa Palestina yang diinjak-injak oleh Israel bisa dijadikan contoh betapa Muslim di Timur Tengah terlalu sibuk memandang Ka'bah dan lebih suka meng'klaim' kebenaran atas tafsir agama mereka sendiri-sendiri. Syiah di Iran yang paling lantang menentang pendudukan Israel di Palestina dikatakan sebagai sesat sedangkan Sunni yang 'dianggap' lebih dekat dengan ajaran Muhammad harus diam ketika 'kedaulatan' negara mereka diobok-obok oleh negara luar.
contoh lainnya, pernah suatu kali saya melihat adzan versi Syiah di youtube dan kebanyakan dari perespon mengatakan bahwa Syiah adalah sesat. pertanyaanya? apakah ada yang tidak lebih penting lagi dari sekedar mengklaim ini sesat dan itu benar? kata 'Sesat' selalu bermuara pada Surga dan Neraka, tidak lebih dari itu.
kemudian, apakah benar keterbelakangan dan kemunduran peradaban Islam disebabkan oleh karena manusia terlalu sibuk dengan Surga dan Neraka sehingga mereka rela untuk berperang? kenapa orang-orang seperti ini tidak pernah bersuara lantang ketika terjadi penindasan? Somalia yang berpenduduk 90 % Muslim masih harus kelaparan sejak jaman 90an sedangkan Sudan yang berpenduduk 60 % Muslim harus berperang melawan saudaranya sendiri ketika kita disini sudah bisa menikmati kehidupan yang sejahtera.

menurut saya, orang-orang seperti Ulama yang dipenggal oleh penjahat dan akhirnya masuk neraka itu adalah orang-orang yang telah kehilangan kesadaran akan arti pentingnya agama sebagai perekat sosial dan media untuk menumbuh kembangkan nilai-nilai kemanusiaan. sangat menyesatkan jika seseorang beragama lantas hanya ingin masuk surga dengan rajin beribadah dan meninggalkan orang lain kelaparan, merampok, menjajah, dijajah, teraniaya, dan dianiaya. sungguh menjadi khalifah dan menjadi seorang muslim sejati itu sangat sulit karena harus menggabungkan dua aspek diatas.

Perampok yang mati kelaparan karena bekalnya diberikan kepada orang yang kelaparan dijalan masih lebih baik dari ulama meskipun dia banyak dosa. Tobat tidak harus hanya dilakukan dengan meminta ampun ke tuhan dengan menengadahkan tangan ke langit atau membaca mantra yang artinya kita tidak memahami arti sebenarnya.

jika anda marah ketika membaca tulisan ini, maka anda termasuk dalam kategori ulama yang mati tersebut tetapi ketika anda merenungkan pendapat yang mungkin menurut banyak orang 'sesat' maka anda termasuk orang-orang yang sedang mencari kebenaran tentang pentingnya bersikap humanis terhadap sesama.

wallahualam bis sawab,

delionine

Membumikan Agama

tidak memaknai agama sebagai sebuah entitas yang suci dan bebabs kritik menjadikan manusia tidak terkooptasi oleh dogma agama yang seringkali ditafsirkan 'secara berbeda' oleh penganutnya. sikap dan perilaku seseorang akan terbatasi oleh teks-teks agama ketika itu tidak dipahami secara kontekstual. sebuah kewajaran karena teks-teks agama tersebut diciptakan atau diturunkan oleh tuhan sebagai wahyu tidak bisa lepas dari konteks sosial masyarakat ketika itu. oleh sebab itu, ada beberapa penganut agama yang terkesan kaku dan cenderung membatasi dirinya dalam pergaulan antar sesama manusia. sangat disayangkan jika kemudian agama diaplikasikan secara sempit di kehidupan seseorang yang mengakibatkan dirinya terkucil dari komunitas. toh, dia tetap saja yakin bahwa apa yang dilakukannya itu benar secara agama dan apalagi kalau bukan 'keyakinan menjadi ahli surga.' sebuah penyakit akut yang banyak melanda penganut abrahamic religion termasuk islam.

parto, santri dekhil yang jarang mengaji ketika nyantri di pesantren mengatakan kepada saya bahwa dia sangat alergi dengan orang-orang seperti ini. menurutnya, melaksanakan perintah tuhan tidak harus dipahami hanya dengan ibadah ubudiyah dengan sering shalat malam, puasa sunnah, dan membaca al quran tetapi lebih pada perilaku terhadap orang lain. bagaimana menghargai dan menolong orang lain merupakan kewajiban bagi semua orang, tidak saja bagi pemeluk agama.

berhati-hati terhadap makanan juga bukan berarti tidak makan daging babi atau minum-minuman keras melainkan harus dipahami dalam konteks yang lebih luas. contohnya tidak membeli pakaian yang dicurigai dibuat atas dasar perbudakan. berdasarkan investigasi, sebagian besar karpet buatan India dicurigai dihasilkan dari perbudakan meskipun di karpet tersebut telah ditulisi 'fair trade' yang menunjukan kalau produk tersebut telah memenuhi standar internasional yang bebas dari perbudakan dan monopoli perdagangan. selain itu, juga tidak makan cokelat hasil perbudakan. padahal, di film dokumenter berjudul 'global investigation on slavery' menyimpulkan bahwa 2/5 dari cokelat dunia dihasilkan oleh budak belian. mereka harus bekerja tanpa mendapatkan bayaran sepeser pun di sekitar 90 % perkebunan kakau di Pantai Gading sebagai negara pengekspor terbesar kakau ke eropa dan amerika.

perusahaan merek-merek pakaian terkenal seperti mark & spencer juga menyisihkan laba perusahaan untuk mendukung agresi militer israel di palestina. dalam perekonomian modern dimana laba perusahaan dihitung berdasarkan akumulasi dari semua hasil penjualan, sangat memungkinkan bahwa uang kita setara dengan 'misalnya' satu peluru dan kita tidak tahu apakah peluru tsb telah memangsa anak-anak tanpa dosa di palestina.

tidak membeli barang di Tesco yang katanya lebih murah dari toko lain juga bisa dimaknai bahwa ini bentuk solidaritas terhadap sesama manusia karena sebagian dari laba Tesco juga digunakan untuk mendukung pendudukan israel atas palestina. bahkan para aktifis anti perang yang mendukung palestina justru kebanyakan berasal dari non Islam. di universitas lancaster tempat saya belajar sering kali diadakan kajian tentang agresi militer Israel di Palestina. toh yang menghadiri kebanyakan justru berasal dari bule-bule yang beranting, bertato atau bahkan atheis. lalu dimana 'orang-orang suci' selama ini? orang-orang yang mengaku dan sangat mempercayai sebagai ahli surga? padahal saya yakin bahwa semua ajaran agama melarang kekerasan dlm bentuk apapun dan harus membantu orang yang kesusahan.....aahhh, kalau sampai orang-orang suci ini masuk surga dan orang-orang bertato yang tak beragama tersebut masuk nerak, alangkah tidak adilnya Tuhan.

tidak membeli barang-barang diatas bisa digolongkan dalam bentuk 'kesalihan sosial.' selain itu, perbuatan ini bisa dikategorikan sebagai bentuk kehati-hatian manusia atas barang haram karena tidak ada bedanya antara makan daging babi dengan membantu perbudakan atau mendukung agresi militer. bahkan mungkin mendukung perbudakan dengan membeli cokelat dan membeli produk M & S jauh lebih keji daripada hanya memakan daging babi. sebuah kenyataan bahwa perang tidak hanya mengakibatkan orang kehilangan nyawa tetapi juga bisa mengakibatkan 'collateral damage' berupa terbunuhnya orang lain, rusaknya rumah, amputasi bagian tubuh, tidak bisa mengenyam pendidikan, miskin secara ekonomi dan tertekan secara psikologi. sehingga bisa disimpulkan bahwa ketidak hati-hatian dalam masalah ini bisa mengakibatkan pelanggaran secara tersistematis dan ini merukan dosa besar yang selama ini dilupakan oleh orang-orang suci tersebut..

bersambung,

delionine, 9/08/08

Sudrun dan Sufisme

Satu hari, Sudrun, seorang murid sufi bertanya pada gurunya, Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunya menjawab, Ada ladang jagung yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja jagung yang kamu anggap paling besar....artinya, saat itulah kamu menemukan cinta.

Sudrun pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, Mengapa kamu tidak membawa satupun jagung?

Sudrun pun menjawab, Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling besar, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih besar lagi di depan sana, jadi tak kuambil jagung tersebut. Saat ku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa jagung-jaung yang kutemukan kemudian tak sebesar jagung yang telah kulewati tadi, jadi pada akhirnya tak ku ambil sebatang pun

Gurunya kemudian menjawab, Jadi ya itulah cinta

Di hari yang lain, Sudrun bertanya lagi pada gurunya, Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunya pun menjawab, Ada hutan yang subur didepan saja. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan

Sudrun pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?

Sudrun pun menjawab, Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah seluruh ladang, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi di kesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah pendek, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya.

Gurunya pun kemudian menjawab, Dan ya itulah perkawinan.

catatan kecil:

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.

Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan¦tiada sesuatu pun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu. Karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

disarikan dari emilia sulam pita,

De Lionine,
one day to Birthday, 27 July 2008

Kucing on Youtube...?

Tidak salah kiranya jika Sayid Kutb mengatakan bahwa budaya barat adalah sebuah nihilisme karena tujuan hidup masyarakatnya hanya mementingkan kekayaan materi. hampir tidak bisa ditemui oleh Kutb sebuah nilai yang mencerminkan kekayaan spiritual di dunia barat. pendapat tersebut bisa dibenarkan karena dia yang berangkat dari Mesir untuk studi di Amerika seperti orang yang terjun bebas dari puncak gunung ke dasar lautan dimana dua tempat tersebut mempunyai 'content of culture' yang berbeda. perbedaan ini kemudian oleh Donald Black disebut sebagai 'the cultural distance' dimana budaya timur tengah menitik beratkan pada kekayaan spiritual sedangkan budaya barat cenderung menghilangkannya.

masing-masing menurut saya mempunyai kekuatan dan kelemahan. di tulisan kali ini saya hanya akan membahas kelemahan dari nihilisme barat sepanjang yang saya ketahui dari hasil pengamatan saya ketika berinteraksi dengan dunia tersebut selama di UK. saya sengaja mengulas dalam bentuk semi novel dimana tulisan akan dipaparkan dengan baik dengan percakapan dan ulasan secara teoritis.

saya biasanya joging minimal 1 kali dalam seminggu, mengelilingi kampus dan berakhir di taman williampson park di belakang kampus tersebut. ketika pulang, saya selalu jalan kaki dari taman ke flat yang jaraknya sekitar 400m untuk meredakan otot kaki. seringkali di tengah perjalanan pulang itu saya berpapasan dengan orang-orang yang membawa anjing mereka untuk berjalan-jalan. tidak akan ada percakapan atau tatapan mata antara saya saya dengan orang-orang tersebut ketika saya bersikap cuek. tetapi akan ada percakapan yang sangat panjang dan ramah ketika kita mulai melirik anjing atau hanya sekedar mengatakan

'your dog is so cute!'

suatu hari, saya bermaksud untuk belanja di 'spar' sebuah toko kecil dekat kampus yang mirip dengan 'indomaret' atau 'alfamart' di indonesia. di tengah perjalanan saya melihat kucing yang sedang berjemur di depan rumah dan saya berhenti untuk memanggilnya;

'pussy.... pussy...'

sejenak kemudian seorang laki-laki tua muncul dari dalam rumah dan dengan antusiasnya memperkenalkan 'maggy,' nama kucing tersebut kepada saya. percakapan tidak berhenti sampai disitu karena si kakek yang mungkin tinggal sendiri tersebut juga mengisahkan ketika si kucing mengunci nya di luar rumah semalam suntuk. dia sangat bangga ketika dibuat kedinginan oleh si kucing.

kemudian saya bertanya,

bolehkan saya memegang maggy?

'oo..tentu saja boleh.' dia menjawab sambil memancing maggy dengan cara menyebut namanya dan melambaikan tangan agar maggy mendekat kepadanya. tetapi si maggy masih bermalas-malasan karena sedang berjemur.

karena tidak berhasil memegang maggy, saya memutuskan untuk pergi dan 'say thank you' kepada sang kakek.

ucapan seperti 'thank you' dan 'excuse me' merupakan bahasa resmi di dunia barat untuk menunjukan bhw kita adalah orang bukanlah orang yang kasar.

tetapi si kakek tetap saja bercerita tentang si 'maggy' sampai saya harus berhenti di luar pagar untuk mendengar ceritanya yang sgt antusias tersebut.

didalam perjalan saya berfikir, kenapa maggy sgt penting buat si kakek? apa bedanya maggy dg si 'kuncung,' kucing lucu di rumah saya? toh saya tidak pernah bercerita kepada orang lain tentang lompatan-lompatan si kuncung ketika dia dikasih makan. bahkan saya takut nanti dia dicuri oleh orang tersebut.

pertanyaan yg lebih dalam lagi..apakah ini imbas dari budaya nihilisme barat yang menghilangkan budaya kekeluargaan karena tetangga kakek tersebut cuek terhadapnya sehingga dia 'dipaksa oleh keadaan' untuk berteman dengan seekor kucing? teman, dalam bahasa lain adalah manusia dan dengannya dia akan bisa bertemu dengan manusia-manusia sungguhan. sehingga si kakek sangat senang ketika mendengar suara 'pussy..pussy' saya ke si maggy karena dia tahu bahwa momen inilah yang sebenarnya dia harapkan. bisa juga diartikan bahwa panggilan tersebut sama saja dengan panggilan ke dia.

bentuk lain dari teman bagi orang barat adalah dunia maya atau internet. meskipun tidak nyata karena interaksi antar pengguna hanya dihubungkan oleh komputer (YM, MSN, dll) dan telepon (skype, Voip, dll) keberadaan dunia yang dihubungkan oleh satelit tersebut sangat penting bagi orang-orang yang kesepian dan stress. terutama sebuah website bermana youtube dimana peng-aksesnya bisa meng-upload foto dan video mereka tanpa batas. web ini menyediakan kolom pesan dan tanggapan buat pengakses sehingga dari sinilah percakapan dari si peng-upload video dengan yang meng-aksesnya.

yang namanya pesan dan tanggapan pasti beragam dari mulai sumpah serapah ala barat seperti WTF, kesan menyanjung seperti 'its adhorable, its very cute dan its interesting' sampai pada 'can you share the other vid?'

meskipun komentar ini hanya didunia maya, tp bisa juga diartikan sebagai sebuah percakapan yang nyata oleh orang-orang tertentu khususnya orang yang sedang depresi berat. dan saya mengasumsikan inilah teman-teman maya orang-orang barat yang kena imbas dari budaya nihilisme tersebut.

satu peng-upload yang tlah berhasil untuk mendapatkan simpati peng-akses youtube adalah marie digby, seorang penyanyi pop USA berparas cantik berdarah jepang. konon Marie ingin rekaman lagu tp dengan pihak produser tdk pernah diberi kesempatan. akhirnya ditengah keputus asaannya tsb, dia berinisiatif untuk merekam lagu2nya dan menyanyikan beberapa lagu terkenal seperti umbrella, what i have done, dll untuk kemudian di upload ke youtube. dan benar saja, setelah beberapa bulang,

lagu umbrella Marie yang aslinya dinyanyikan oleh Rihana telah diakses tidak kurang dari 7juta pencinta youtube. dari sini kemudian karier Marie berkembang. pertama dia diundang oleh salah satu stasiun TV dan beberapa bulan kemudian album perdananya berhasil di luncurkan. tdk sampai disitu, ternyata dari beberapa org yg mengakses videonya di youtube telah memesan jauh2 hari sebelum album tersebut keluar.

di dunia barat yang mementingkan kekayaan materi dan kerja, orang-orang tidak punya cara lain kecuali berteman dengan kucing, anjing, youtube, dan media-media lain karena manusia terlalu sibuk dengan pekerjaan, selalu dihinggapi ketakutan tidak bisa makan, sampai pada depresi karena merasa tersisih oleh komunalistas.

dan saat ini, saya mulai merasa memerlukan media-media tersebut untuk mencari teman. tetapi saya kan bukan orang barat, tidak suka budaya barat, apalagi makananya yang kalah gurih dengan rendang dan pecel madiun. dus, apakah saya telah kehilangan kepercayaan diri atau ini hanya bagian awal untuk mencari jati diri?

saya tidak pernah tahu apakah nantinya saya akan seperti sayid kutb atau kakek tua dengan si maggy nya. wallahu alam bi sawab

De Lionine,

lancaster 25 july 2008

Aristocrat Prejudice vs. Relativisme Kebenaran

Saya terharu ketika membaca petikan-petikan dari bukunya Dahlan Iskan, 'Ganti Hati' yang mengulas kehidupannya sebagai CEO Jawa Pos dan saat-saat dia transplantasi hati di Tiongkok. Terharu karena Dahlan Iskan, yang pernah dinobatkan sebagai salah satu CEO terbaik Asia versi salah satu majalah terbitan luar negeri tersebut ternyata orang yang sangat santun terhadap bawahannya. Meskipun diawal bukunya dia mengatakan orang yang perfeksionis, tetapi diakhir atau ketika dia terbaring sakit setelah muntah darah di tahun 2005 mulai menyadari bahwa office boy layak dihormati seperti layaknya seorang direktur.

ketika saya di IALF Jakarta sebelum berangkat ke UK, saya juga mendapat email dari seorang teman yang menurut saya merupakan sebuah teguran bagi orang-orang yang gila pangkat dan jabatan. inti dari email tersebut adalah 'kenapa kita lebih suka mengenal nama seorang manager daripada mengingat nama office boy atau tukang kebun di perusahaan kita.' apa sih bedanya antara kedua orang tersebut. kl ga salah pesan ini dikutip dari buku Chicken Soup for the Soulnya Mark Victor Hansen.

beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah buku 'The Soul of Law' karangan Benjamin Sell, seorang pakar hukum dan pengacara.

di bukunya tersebut dia mengisahkan karir pertamanya sewaktu kuliah sebagai 'pekerja serabutan' - tukang loper surat di perusahaan yang tugasnya cuma mengantar dan menerima surat. tempat kerjanya cuma seluas 3X3 m. ketika dia mengantar surat-surat tersebut ke bagian-bagian di perusahaan, tidak ada yang mengatakan 'hello,'... 'goodmorning,' atau ucapan-ucapan lainya kecuali 'thank you' dari orang yang telah menerima surat. bahkan kalau sedang berjalan di sebuah ruangan yang besar, orang-orang administrasi yang kebanyakan pengacara tersebut 'terkesan' lebih suka men'cueki'nya.

beberapa tahun kemudian, dia kembali bekerja di perusahaan tersebut bukan untuk menjadi tukang loper surat tetapi sebagai pengacara. selang beberapa bulan kemudian karirnya meningkat menjadi salah satu pengacara top dan sejak saat itulah dia menjadi orang terkenal. meskipun demikian, dia masih ingat betul ketika menjadi peloper surat beberapa tahun silam. dan ini menyisakan pertanyaan yang mendalam,

Sell heran kenapa dulu waktu menjadi peloper surat tidak ada orang yang 'say hello' atau gudmorning kepadanya atau bahkan terkesan mencueki dirinya. berbanding terbalik dg sekarang dimana orang 'malah' cenderung ingin mengucapkan say hello duluan. apa bedanya Sell sekarang dengan Sell dulu? padahal dia menganggap bisa juga pengacara-pengacara tersebut tidak lebih baik kualitasnya daripada peloper surat.

akhirnya dia menyimpulkan bahwa yang membedakan hanyalah 'perspective' dari orang-orang disekelilingnya yang dia sebut sebagai 'aristocrate prejudice' dimana anggapan ini akan menempatkan orang-orang tertentu sebagai golongan atas/aristokrat yang dipandang lebih tinggi dari orang dibawahnya. padahal tidak ada yang membedakan dari segi kualitas kepribadian dan pola pikir. tidak ada ukuran mutlak bagi seseorang untuk mendapatkan 'aristocrate prejudice' selain anggapan-anggapan dari orang lain di sekitarnya.

lalu, apa yang membedakan penghormatan kepada direktur dan sikap acuh dengan office boy? satu hal yang sangat mungkin bisa dijadikan ukuran adalah perspektif kita tentang sebuah nilai.

jas, mobil, gelar, jabatan, dasi, dan mungkin merek telah menjadi sebuah nilai yang harus diperhatikan. itu dianggap sebagai sebuah simbol yang harus ditaati seperti sebuah agama yang berhasil menyihir manusia dengan dogma-dogmanya. sehingga sekarang orang harus bermobil, pake dasi dan ber jas dulu kalau ingin dihormati orang lain. bahkan untuk kalangan tertentu, merek mobil, sepatu sampai bau parfumpun bisa menentukan seseorang mendapat 'aristocrate prejudice'

di satu sisi; kerja keras, kesungguhan, ikhlas, taat, patuh, dan mungkin ketakutan tidak dilihat sebagai sebuah profesionalitas dari seorang tukang loper surat. makanya dulu ada anekdot kalau sudono salim dan sofyan wanandi sering pake celana kolor kalau masuk cendana. alamak, presidenpun harus terkesima oleh aristocrate prejudicenya 'para cina tersebut.'

di masjid univ lancaster, tempat saya sering tiduran siang juga bisa didapati pemikiran aristokrat seperti ini. misalnya, sejak saya disini hampir satu tahun, tak sekalipun saya mendapati orang-orang Turki yang jadi imam atau khotib jumat. padahal jumlah mereka sgt banyak. yang sering menjadi khotib adalah orang-orang dari timur tengah dan baru-baru ini ada orang Malaysia. lalu dimana orang Indonesia?

berdasarkan teori diatas, saya menyimpulkan bahwa 'masih ada anggapan' yang mengatakan bahwa orang timur tengah itu masih islami dibanding dg org islam dari negara lain. orang-orang Turki tidak diberi kesempatan menjadi imam karena konsep negaranya adalah sekuler, sebuah kata-kata yang asing dan diharamkan oleh mahzab wahabi yg byk dianut oleh negara timur tengah.

indonesia, meskipun sebagai negara dg penduduk yang beragama islam terbesar didunia tidak masuk dlm perhitungan karena konsep negaranya malah sangat asing, teologi pancasila yang dianggap sebagai jalan tengah antara hukum islam dan sekularisme.

kemudian, mungkinkah orang-orang yang masih mempunyai 'anggapan aristokrat' ini nantinya akan menyadari bahwa menghormati Sell sebagai tukang loper surat sama pentingnya dengan mereka menghormati direktur? atau mereka harus menunggu seperti Dahlan Iskan dulu, tentunya dengan permasalahan yang berbeda?????

De Lionine,

27/07/09